Umum  

” 3 Lelakiku ” Kisah Kasih Kompol Hastin Mengarungi Pahit Manis Kehidupan Polwan

IMG 20261106 063804
Peluncuran Buku berjudul 3 Lelakiku Karya Kompol Hastin di aula WP 1 Polres Karanganyar.

Kabar Karanganyar, — Ada tiga lelaki yang menjadi bagian paling penting dalam perjalanan hidup Kompol Hastin Marhadjanti. Seorang suami dan dua anak laki-laki yang menjadi tempatnya menambatkan cinta, merajut harapan, sekaligus menemukan kekuatan ketika kehidupan menghadirkan gelombang ujian. Kisah kasih, pengorbanan, dan ketegaran itulah yang diabadikan Hastin dalam buku perdananya berjudul 3 Lelakiku.

Bagi perempuan yang kini menjabat Kepala Bagian Sumber Daya (Kabag Sumda) Polres Karanganyar tersebut, buku setebal 156 halaman itu bukan sekadar karya tulis. Lebih dari itu, 3 Lelakiku menjadi ruang untuk merawat kenangan, mengabadikan perjalanan bersama keluarga, sekaligus menuturkan sisi kehidupan seorang perempuan yang harus berdiri tegak di antara kewajiban pengabdian dan tanggung jawab terhadap orang-orang terkasih.

Menggunakan nama pena Angin, Kompol Hastin memperkenalkan buku tersebut di Aula Wira Pratama Mapolres Karanganyar, Kamis (5/11/2026). Karya yang mulai dirintis sejak 2016 dan baru diselesaikan pada 2024 itu lahir dari perjalanan panjang yang tidak selalu mudah.

Di balik seragam dan tanggung jawab sebagai anggota Polri, Hastin menjalani kehidupan yang tak jauh berbeda dengan perempuan lainnya. Ada kewajiban sebagai istri, kasih sayang seorang ibu, serta perjuangan menjaga keutuhan keluarga di tengah tuntutan pekerjaan yang menyita waktu dan tenaga.

Dinamika penugasan yang membawanya berpindah dari Solo, Klaten hingga Kendari menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Baginya, kehidupan seorang Bhayangkari bukan hanya tentang mendampingi pengabdian suami, tetapi juga tentang bagaimana seorang perempuan menjalani peran, menghadapi perubahan, dan menjaga cinta keluarga di tengah berbagai keterbatasan.

Bahtera kehidupan Hastin pun tak selalu berlayar di perairan tenang. Ada arus dan gelombang yang harus dihadapi, termasuk ketika sang suami berjuang melawan sakit hingga akhirnya berpulang. Dalam situasi kehilangan itulah, dua putranya menjadi bagian terpenting dari alasan untuk tetap bertahan dan melanjutkan perjalanan.

Judul 3 Lelakiku dipilih bukan tanpa alasan. Ketiga sosok laki-laki tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah hidupnya. Suami yang pernah menjadi teman perjalanan, serta dua anak laki-laki yang menjadi penerus cinta dan harapan.

“Anak saya dua laki-laki, suami saya laki-laki. Jadi otomatis dalam kehidupan saya, kenangan masa lalu saya itu saya dengan tiga laki-laki,” tutur Hastin.

Menuntaskan buku tersebut ternyata membutuhkan perjuangan tersendiri. Kesibukan kedinasan, mobilitas pekerjaan, hingga kejenuhan sempat membuat proses penulisan terhenti cukup lama. Namun, keinginan meninggalkan sesuatu yang bermakna bagi anak-anak dan cucunya membuat Hastin kembali merangkai setiap kepingan cerita hingga menjadi sebuah buku utuh.

Kisah yang ditulisnya mengalir melalui berbagai fase kehidupan. Mulai dari dinamika rumah tangga, perpindahan tempat tinggal, hingga kenangan awal pertemuannya dengan sang suami di Makassar. Semua dirangkai sebagai potret perjalanan cinta yang tidak hanya berisi kebahagiaan, tetapi juga kehilangan dan penerimaan.

Hastin berharap, buku perdananya dapat menjadi teman bagi siapa pun yang tengah menghadapi masa sulit. Ia ingin pembaca memahami bahwa kehilangan bukan berarti seluruh perjalanan harus berakhir. Selalu ada alasan untuk bangkit, melanjutkan kehidupan, dan menemukan makna baru dari setiap ujian.

“Melalui karya perdana ini, saya berharap para pembaca khususnya mereka yang tengah berada di titik terendah dalam hidup dapat memetik hikmah positif tentang arti ketegaran, kebangkitan, dan cara merawat cinta kasih di tengah keterbatasan,” ungkapnya.

Dedikasi POLRI Untuk Negara dan Keluarga

Apresiasi juga datang dari Komjen Pol (Purn) Lutfi Lubihanto yang memberikan ulasan terhadap buku tersebut. Menurut dia, kisah yang dituturkan Hastin berpotensi memberikan kekuatan dan penghiburan bagi pembaca yang pernah maupun sedang menghadapi ujian serupa. Mereka dapat menemukan keyakinan bahwa dalam menghadapi kesedihan, tidak seorang pun benar-benar sendirian.

Lebih jauh, 3 Lelakiku juga menyampaikan pesan tentang keluarga sebagai fondasi pengabdian. Sebab, di balik tugas seorang anggota Polri yang menuntut kesiapsiagaan dan tanggung jawab, terdapat keluarga yang turut menanggung konsekuensi. Ada pasangan yang belajar memahami waktu, anak-anak yang menanti kepulangan, serta doa-doa yang terus mengiringi setiap penugasan.

Buku ini sekaligus membuka ruang untuk melihat kehidupan anggota Polri dari sisi yang lebih manusiawi. Bahwa di balik seragam dan pangkat, ada pribadi yang memiliki keluarga, menyimpan kenangan, merasakan kehilangan, dan berjuang menguatkan diri.

Bagi keluarga besar Polri, karya Hastin juga menjadi penghormatan bagi para istri, suami, dan anak anggota yang selama ini mengambil bagian dalam pengabdian, meski tidak selalu terlihat di ruang publik.

Pada akhirnya, 3 Lelakiku adalah cerita tentang cinta yang tidak selesai hanya karena seseorang telah tiada. Tentang seorang perempuan yang tetap menjalankan kewajibannya, merawat masa depan anak-anaknya, sekaligus menjaga kenangan masa lalu agar tidak hilang ditelan waktu.

Di tengah derasnya arus tugas Bhayangkara, Hastin menunjukkan bahwa pengabdian kepada negara dan cinta kepada keluarga merupakan dua perjalanan yang saling beriringan. Sebab, sekuat apa pun bahtera seorang perempuan mengarungi samudra kehidupan, keluarga tetap menjadi pelabuhan tempat cinta berlabuh dan kekuatan kembali tumbuh. (Hds/K2)