Gotong Royong Lintas Sektor, Founder Lawu Grup Optimistis Karhutla Lawu Segera Padam

IMG 20261022 194245
Founder Lawu Group Parmin Sastro Wijono saat lakukan pantauan karhutla sari cafe 2020 MDPL.

Kabar Karanganyar, – Founder Lawu Grup, Parmin Sastro Wijono, optimistis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Gunung Lawu segera padam. Semangat gotong royong atau cancut taliwondo yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, relawan, pegiat lingkungan hingga karyawan menjadi modal penting untuk mengendalikan kebakaran yang telah berlangsung hampir sepekan tersebut.

Saat melakukan pemantauan langsung terhadap dampak karhutla di kawasan destinasi wisata yang dikelolanya di lereng Lawu, Kamis (22/10/2026), Parmin menyebut kondisi kebakaran relatif terkendali dibandingkan dua hari sebelumnya. Meski demikian, sejumlah titik masih terlihat mengeluarkan asap.

“Seluruh masyarakat, mulai dari lembaga masyarakat, relawan, pegiat lingkungan, sampai karyawan Lawu Grup sendiri, semuanya bergerak. Cancut taliwondo. Sekarang relatif sudah terkendali,” ujarnya.

Ia berharap upaya pemadaman segera membuahkan hasil sehingga seluruh titik api benar-benar padam. Selain mengandalkan kerja bersama berbagai pihak, Parmin juga berharap hujan segera turun untuk membantu mengatasi kebakaran di lereng Gunung Lawu.

Berdasarkan pantauannya, titik kebakaran masih berjarak sekitar tiga kilometer atau sekitar Pos I melalui kawasan Sakurah Hill. Ia menilai area yang terbakar sejauh ini lebih banyak berada di kawasan hutan dengan kerapatan pohon relatif rendah. Sementara itu, kawasan dengan pepohonan yang lebih rapat dinilai masih relatif aman.

Di sisi lain, kebakaran yang melanda sejumlah kawasan pegunungan di Pulau Jawa mulai memberikan dampak terhadap sektor pariwisata. Parmin menyebut kebakaran tidak hanya terjadi di Gunung Lawu, tetapi juga dilaporkan di kawasan Gunung Sindoro, Sumbing, hingga Bromo.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi minat kunjungan wisatawan, terutama destinasi yang berada di sekitar kawasan terdampak kebakaran. Namun, hingga hari keenam penanganan karhutla, penurunan omzet usaha wisata yang dikelola Lawu Grup belum terlalu signifikan.

“Kalau di Lawu Grup, penurunannya baru sekitar 20 persen. Masih relatif stabil,” ungkapnya.

Parmin menilai dampak paling terasa terjadi pada destinasi wisata pendakian yang sementara ditutup akibat kebakaran. Penutupan tersebut secara langsung membatasi aktivitas wisatawan dan berimbas pada pendapatan usaha yang bergantung pada kunjungan pendaki.

Meski demikian, ia berharap kondisi segera pulih seiring terkendalinya kebakaran dan dibukanya kembali destinasi wisata yang terdampak sesuai ketentuan keselamatan.

Lebih jauh, Parmin mengingatkan bahwa menjaga kelestarian hutan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, Perum Perhutani, maupun Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Masyarakat yang sehari-hari beraktivitas di kawasan hutan juga memiliki peran penting dalam mencegah kebakaran.

Ia menyoroti kebiasaan membakar semak-semak yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk saat warga membersihkan vegetasi untuk mendapatkan rumput bagi ternak. Api yang awalnya dimaksudkan untuk membantu aktivitas tersebut dapat merembet dan membesar apabila tidak dikendalikan.

“Kita mengimbau masyarakat agar tidak membakar semak-semak. Menjaga hutan harus dilakukan bersama-sama, bukan hanya Perhutani atau LMDH. Masyarakat justru menjadi pihak yang sehari-hari bersentuhan langsung dengan kawasan hutan,” tegasnya.

Menurut Parmin, semangat cancut taliwondo tidak hanya diperlukan dalam upaya pemadaman ketika kebakaran terjadi, tetapi juga harus diwujudkan melalui kepedulian bersama untuk menjaga hutan agar bencana serupa tidak kembali terulang. (Hds/K2)