Kabar Karanganyar, – Kepergian Bejo Utomo, 76, ke ladang pada Kamis (8/10/2026) pagi berakhir tragis. Pria lanjut usia yang akrab disapa Mbah Bejo itu berpamitan dari rumah dengan mengayuh sepeda ontel seperti biasanya.
Namun hingga menjelang siang, Mbah Bejo tak kunjung pulang.
Keluarga mulai panik. Sang anak, Mbak Asih, menyusul ke sawah untuk mencari keberadaan ayahnya. Di sana, ia hanya menemukan perlengkapan milik Mbah Bejo beserta sepeda ontelnya.
Mbah Bejo seolah hilang tanpa jejak.
Pencarian kemudian dilakukan. Sekitar pukul 11.15 WIB, Agus Sarwono, 39, ikut mencari korban. Namun saat itu area kebun jati di Dusun Nglaban RT 01/RW 02, Desa Lemahbang, Kecamatan Jumapolo, sudah dipenuhi asap dengan kobaran api cukup besar.
Agus menyusuri pinggiran kebun hingga sekitar pukul 12.00 WIB. Namun Mbah Bejo belum ditemukan.
Harapan keluarga kembali muncul ketika api mulai padam. Sekitar pukul 14.00 WIB, pencarian dilanjutkan. Agus bersama Mbak Asih, sejumlah anggota keluarga dan perangkat desa kembali menyusuri kebun jati yang telah hangus terbakar.
Hingga akhirnya, sekitar pukul 15.30 WIB, sebuah petunjuk mengubah pencarian menjadi kabar duka.
Agus mencium bau kulit terbakar.
Bau tersebut mengarah ke bagian dalam kebun jati.
Di situlah Mbah Bejo ditemukan. Tubuhnya sudah tergeletak tak bernyawa di tengah area kebun yang sebelumnya dilalap api.
Kronologi kejadian sebagaimana diatas disampaikan oleh kapolsek Jumapolo AKP Yulianto, S.H, dalam laporan kejadian penemuan mayat di ladang jati wilayah hukum polsek Jumapolo. Setelah mendapat laporan tersebut disampaikan petugas polsek Jumapolo berkoordinasi dengan inafis polres dan puskesmas Jumapolo, selanjutnya datang untuk evakuasi korban dari TKP.
” Petugas kemudian mendatangi lokasi dan melakukan pemeriksaan bersama Inafis Polres Karanganyar serta Puskesmas Jumapolo, ” Katanya.
Dari pemeriksaan luar, petugas tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Hasil pemeriksaan Puskesmas Jumapolo menyebut korban kemungkinan meninggal dunia akibat terbakar. Perkiraan waktu kematian lebih dari tujuh jam saat pemeriksaan dilakukan.
Keluarga menyatakan Mbah Bejo tidak memiliki riwayat sakit. Tidak ditemukan pula persoalan keluarga maupun masalah dengan lingkungan sekitar yang diketahui sebelum kejadian.
” Keluarga menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan dituangkan dalam surat pernyataan dari anak korban, ” Tambahnya.
Setelah pemeriksaan jenazah selesai, jasad Mbah Bejo diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Pagi hari Mbah Bejo masih berpamitan hendak ke ladang. Sore harinya, keluarga justru menemukan dirinya telah terbujur kaku di tengah kebun jati yang hangus terbakar. Bau kulit terbakar menjadi petunjuk terakhir yang mengakhiri pencarian keluarga terhadap sosok yang mereka cintai. (Hds/K2)












