WISATA  

Ratusan Bikers Siap Jelajahi Eksotisme Lereng Lawu, Lawu Moto Camp 2026 Promosikan Wisata Karanganyar

IMG 20260925 113722
Yuis Setyawan (Cozmed) presentasikan event Road To Lawu Moto Camp 2026 kepada awak media.

Kabar Karanganyar, – Ratusan bikers yang tergabung dalam komunitas Moto Camp dari berbagai daerah di Indonesia bakal ambil bagian dalam event riding bareng Lawu Moto Camp 2026, yang akan digelar pada 10–11 Oktober 2026.

Mengusung konsep berkendara sambil berkemah, kegiatan ini menawarkan pengalaman menjelajahi eksotisme bentang alam lereng Gunung Lawu melalui jalur-jalur wisata yang selama ini belum banyak dikenal wisatawan.

Event yang berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Karanganyar tersebut diharapkan menjadi magnet baru pariwisata, sekaligus mendongkrak promosi potensi wisata Karanganyar melalui jejaring komunitas otomotif dan media sosial.

Ketua Pelaksana Lawu Moto Camp 2026 sekaligus Ketua Moto Camp Chapter Solo, Yuis Cozmed Setyawan, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap penurunan kunjungan wisata di Karanganyar. Komunitas kemudian diajak berkolaborasi untuk menghadirkan event yang mampu memberikan dampak berganda bagi sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat.

“Konsep kami bukan cepat-cepatan atau ekstrem-ekstreman. Justru kami ingin mengeksplorasi wisata. Bagaimana menikmati Tawangmangu, Kemuning, dan Ngargoyoso dengan cara yang berbeda, yakni berkendara sambil menikmati alam,” ungkap Yuis dalam konferensi pers Road to Lawu Moto Camp 2026, Kamis (24/09/2026).

Menurutnya, Moto Camp merupakan perpaduan aktivitas bermotor dan berkemah yang mengedepankan petualangan, interaksi dengan alam, serta pengalaman berkomunikasi dengan masyarakat lokal.

Dengan konsep tersebut, peserta tidak hanya diajak melintasi jalur wisata yang sudah dikenal, tetapi juga menjelajahi jalan-jalan pedesaan, kawasan perbukitan, hingga jalur tanah di lereng Gunung Lawu.

Rute yang disiapkan memiliki panjang sekitar 130 kilometer dengan titik keberangkatan dari Tasikmadu Heritage. Panitia membagi peserta dalam dua kategori, yakni jalur umum dan enduro.

Untuk kategori umum, sekitar 80 persen jalur menggunakan jalan beraspal maupun jalan cor beton. Sementara kategori enduro menawarkan sensasi berkendara di jalur tanah dengan porsi sekitar 80 persen, namun tetap mengedepankan aspek keselamatan dan bukan adu kecepatan.

“Ini bukan balapan. Tidak ada target harus sampai di checkpoint jam berapa. Peserta bisa menikmati perjalanan dengan santai. Kalau ingin berhenti untuk menikmati pemandangan, camping, memasak, atau ngopi bersama, silakan,” jelasnya.

Menariknya, panitia tidak mengumumkan secara terbuka lokasi garis finis maupun keseluruhan jalur yang akan dilalui peserta. Peserta hanya dibekali peta perjalanan atau road map untuk menentukan arah menuju titik-titik checkpoint hingga lokasi akhir yang telah disiapkan.

Menurut Yuis, konsep tersebut sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi para bikers untuk memahami navigasi, membaca peta, serta membangun kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi selama perjalanan.

“Harapannya, dari Moto Camp ini peserta belajar. Kalau suatu saat ingin keliling Indonesia menggunakan sepeda motor, mereka sudah punya modal, mulai dari membaca peta, berkomunikasi, sampai berinteraksi dengan masyarakat,” imbuhnya.

Panitia menargetkan sebanyak 350 peserta ambil bagian dalam event perdana tersebut. Hingga konferensi pers berlangsung, jumlah pendaftar telah mencapai sekitar 250 orang.
Peserta tidak hanya berasal dari Solo Raya dan Karanganyar, tetapi juga dari sejumlah daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah, di antaranya Banyuwangi, Jember, Malang, Tulungagung, Blitar, Yogyakarta, Semarang, hingga Banyumas.

Pendaftaran peserta dibuka hingga 5 Oktober 2026 dengan biaya Rp175.000 per orang. Peserta akan mendapatkan jersey, kartu identitas, konsumsi yang disiapkan bersama sponsor, serta kesempatan mengikuti undian doorprize, termasuk hadiah sepeda motor bagi peserta yang beruntung.

Panitia juga menyiapkan lokasi camping beserta fasilitas pendukung. Namun, peserta diwajibkan membawa perlengkapan berkemah secara mandiri, seperti tenda, matras, dan sleeping bag, mengingat suhu kawasan lereng Lawu pada malam hari cukup dingin.

Yuis menegaskan, kegiatan tersebut terbuka bagi berbagai jenis sepeda motor. Baik motor trail maupun motor harian seperti skuter matik bisa mengikuti kegiatan, selama pengendara memperhatikan keselamatan dan menyesuaikan kemampuan kendaraan dengan kondisi jalur.

“Kami tidak ingin mengganggu pengguna jalan lain. Peserta bisa berjalan sendiri atau berdua. Justru kami sarankan tidak berombongan besar karena ini bukan konvoi yang harus berjalan bersama-sama,” tandasnya. (Hds/K2)