Ponpes Putri Miftahul Qolbi Hadir di Kadipiro, Jadi Jalan Terang Generasi Qur’ani

IMG 20260809 231853
Camat Jumapolo beserta pendiri dan pengasuh pondok pesantren Miftahul Qulbi Kadipiro, Jumapolo resmikan gedung pesantren.

Kabar Karanganyar, – Hadirnya Pondok Pesantren Putri Miftahul Qolbi di Dusun Tedunan, Desa Kadipiro, Kecamatan Jumapolo, Kabupaten Karanganyar, menjadi langkah terang menuju lahirnya generasi Qurani yang diharapkan mampu menerangi jalan kehidupan masyarakat Kadipiro, Jumapolo, Karanganyar, hingga Indonesia.

Pesantren yang berada di bawah naungan Yayasan Sendang Panguripan tersebut mulai membuka aktivitas pendidikan bagi santriwati. Kehadirannya diharapkan tidak sekadar menjadi tempat belajar dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter, akhlak, ilmu, serta kepedulian sosial generasi muda.

Ketua Yayasan Sendang Panguripan, H. Setiyadi, mengatakan berdirinya Pondok Pesantren Putri Miftahul Qolbi merupakan buah dari ikhtiar panjang para perantau asal Kadipiro yang selama bertahun-tahun memiliki keinginan untuk memberikan manfaat bagi kampung halaman.

Menurutnya, sekitar 10 tahun lalu sejumlah warga Kadipiro yang merantau dan bekerja di berbagai profesi mulai membangun gagasan untuk ikut memberikan kontribusi bagi masyarakat.

“Teman-teman dari perantauan yang tergabung dari berbagai profesi mempunyai niat bagaimana kita punya andil dan manfaat di masyarakat. Dari situlah kita bersama-sama berangkat sampai hari ini, alhamdulillah dengan rida Allah sudah terwujud sampai progres seperti ini,” ujar Setiyadi dalam acara ta’aruf santriwati Pondok Pesantren Putri Miftahul Qolbi.

Setiyadi menegaskan, pesantren tersebut dibangun bukan semata untuk mengejar kemampuan santri dalam menghafal Al-Qur’an. Lebih dari itu, pendidikan harus berjalan beriringan dengan pembentukan adab dan akhlak.

“Di sini pendidikan bukan hanya mengejar hafalan, tetapi juga adab. Bukan hanya pintar membaca Al-Qur’an, tetapi bagaimana mengamalkan isinya,” katanya.

Ia berpesan kepada para santriwati agar menjadikan pesantren sebagai rumah kedua. Para santri diminta belajar disiplin, sabar, menghormati guru dan sesama, menjaga hafalan Al-Qur’an sekaligus memperbaiki akhlak serta tidak melupakan doa untuk kedua orang tua.

Setiyadi juga meminta para wali santri membangun komunikasi yang kuat dengan pihak pesantren. Menurutnya, pendidikan akan berhasil apabila keluarga dan pesantren memiliki irama yang sama dalam mendidik anak.

“Titipan Bapak Ibu adalah amanah bagi kami. Kami tidak bisa berjalan sendiri. Mari kita jalin komunikasi yang saling menguatkan. Pendidikan berhasil ketika rumah dan pesantren punya irama yang sama,” ujarnya.

Di sisi lain, pembangunan Pondok Pesantren Putri Miftahul Qolbi hingga kini masih membutuhkan dukungan masyarakat. Setiyadi mengungkapkan, total kebutuhan pembangunan telah mencapai sekitar Rp1,7 miliar, namun masih terdapat kewajiban pembayaran material.

Bahkan, yayasan masih membutuhkan sekitar Rp350 juta untuk menutup kekurangan pembiayaan pembangunan yang berjalan hingga saat ini.

“Kita masih punya utang material. Hitung-hitungan sampai hari ini masih defisit kurang lebih Rp350 juta. Kami masih menunggu infak, sedekah dan zakat mal dari Bapak, Ibu, saudara-saudara sekalian,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat sejumlah fasilitas pesantren masih harus dimanfaatkan secara bertahap. Setiyadi menyebut, para santriwati yang akan belajar bahkan belum seluruhnya memiliki ruang kelas khusus sehingga untuk sementara ruang yang tersedia akan dimanfaatkan secara bersama.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat yayasan untuk menjalankan kegiatan pendidikan.

“Kita serahkan kepada Allah. Akan menggantinya seperti apa, lewat apa. Yang penting kita hari ini bisa berbuat dan sama-sama berjuang di jalan Allah,” katanya.

Apresiasi dan Perhatian Pemerintah Kabupaten Karanganyar

Camat Jumapolo Bambang Sriyanto menyambut positif berdirinya Pondok Pesantren Putri Miftahul Qolbi. Menurutnya, keberadaan pesantren tersebut menjadi tambahan ruang pendidikan keagamaan bagi masyarakat, khususnya keluarga yang memiliki anak perempuan dan ingin memberikan pendidikan Al-Qur’an di lingkungan yang lebih dekat.

“Alhamdulillah sudah berdiri dengan gedung yang baik. Mudah-mudahan ke depannya bisa dimanfaatkan tidak hanya warga Desa Kadipiro dan Dusun Tedunan, tetapi seluruh masyarakat,” ujar Bambang.

Bambang juga mengajak masyarakat ikut mengambil bagian dalam pengembangan pesantren. Menurutnya, pembangunan gedung saja tidak cukup apabila tidak diikuti dengan aktivitas pendidikan yang berkelanjutan.

“Jangan sampai bisa membangun gedungnya, namun di dalamnya tidak ada kegiatan belajar mengajar. Mari bersama-sama mendukung agar pondok ini terus berkembang,” tegasnya.

Ia berharap Pondok Pesantren Putri Miftahul Qolbi kelak tidak hanya dikenal di Kecamatan Jumapolo atau Kabupaten Karanganyar, tetapi mampu menarik santriwati dari berbagai daerah.

“Harapannya nanti pondok ini bisa terkenal, tidak hanya di Kabupaten Karanganyar, tetapi juga di luar wilayah Karanganyar. Santrinya semakin banyak dan benar-benar dimanfaatkan masyarakat,” katanya.

Dukungan juga disampaikan Kepala Desa Kadipiro Larsito. Ia mengapresiasi para perantau asal Kadipiro yang turut mengambil peran dalam pembangunan pesantren tersebut.

Menurut Larsito, keberadaan pesantren putri akan semakin memperkuat pendidikan keislaman sekaligus membentuk karakter generasi muda Desa Kadipiro.

“Harapan saya dengan adanya pesantren yang ada di desa kami ini bisa membawa generasi dan regenerasi Desa Kadipiro agar lebih baik dalam aqidah maupun muamalahnya,” ujar Larsito.

Ponpes Putri Miftahul Qolbi Ikhtiar Bersama Mewujudkan Generasi Qur’ani di Desa Kadipiro 

Sementara itu, Ketua Yayasan Raudhatul Ilmi, Muhammad Indiarto, menilai berdirinya Pondok Pesantren Putri Miftahul Qolbi merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk membangun pendidikan Islam di Kadipiro.

Ia menyebut keberadaan pesantren putri tersebut melengkapi ekosistem pendidikan keagamaan yang sebelumnya telah berkembang melalui lembaga pendidikan untuk santri putra.

Indiarto juga mengapresiasi kontribusi para perantau asal Kadipiro yang berada di Jakarta dan berbagai daerah. Menurutnya, semangat membangun kampung halaman merupakan kekuatan besar yang dapat melahirkan banyak kemanfaatan.

Ia berharap keberadaan pesantren tidak berhenti pada pembangunan fisik. Setelah gedung berdiri, menurutnya, yang jauh lebih penting adalah memastikan kegiatan belajar mengajar terus hidup dan berkembang.

“Semoga ini menjadi ikhtiar untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita mungkin terlambat menjadi presiden, terlambat menjadi ulama, atau terlambat menjadi ustaz. Tetapi untuk berbuat baik tidak pernah terlambat,” tutur Indiarto.

Pesan tersebut menjadi salah satu semangat utama dalam berdirinya Pondok Pesantren Putri Miftahul Qolbi. Sebab, pembangunan pesantren bukan hanya tentang mendirikan bangunan, tetapi menyiapkan ruang bagi lahirnya generasi yang diharapkan membawa perubahan bagi lingkungan.

Keberadaan pesantren juga menjadi bentuk kesinambungan perjuangan para tokoh dan masyarakat Kadipiro dalam menjaga tradisi pendidikan agama. Para perantau yang selama ini berada jauh dari kampung halaman memilih kembali mengambil peran dengan membangun fasilitas pendidikan yang dapat dirasakan langsung masyarakat.

Kini, Pondok Pesantren Putri Miftahul Qolbi memasuki babak baru. Dari bangunan yang masih terus disempurnakan, akan dimulai perjalanan para santriwati untuk belajar membaca, menghafal, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an.

Setiyadi berharap seluruh pihak ikut menjaga dan mengembangkan pesantren tersebut sebagai amal jariyah bersama.

“Semoga Allah menjadikan anak-anak kita sebagai ahlul Qur’an, keluarga Allah di muka bumi. Semoga yayasan ini menjadi amal jariyah bagi kita semua,” pungkasnya. (Hds/K2)