Kabar Karanganyar, – Tangis dan jerit keluarga pecah saat peti jenazah berwarna biru yang membawa jasad Aldo Nurmansyah tiba di rumah duka di Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar, Rabu (23/9/2026).
Kerabat, sahabat dan tetangga yang telah menunggu kedatangan Aldo tak kuasa menahan kesedihan. Suasana rumah duka seketika berubah menjadi lautan air mata ketika jenazah korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8 tersebut tiba di tengah keluarga.
Aldo sebelumnya berangkat ke Pulau Borneo untuk mengadu nasib sebagai pekerja perkebunan kelapa sawit. Ia pergi membawa harapan besar untuk mengubah kehidupan keluarganya.
Namun, perjalanan menuju tanah rantau itu berakhir tragis. Aldo justru pulang dalam peti jenazah setelah kapal yang ditumpanginya mengalami musibah.
Bagi Nur Handayani, ibu Aldo, kehilangan sang anak merupakan kenyataan yang sangat berat. Meski demikian, ia berusaha menerima dan mengikhlaskan kepergian putranya.
“Berat hati, tapi harus berusaha ikhlas,” ungkap Nur Handayani saat mengenang kepergian putranya.
Sebelum berangkat, Aldo sempat meminta doa kepada ibunya. Ia menyampaikan harapan agar dirinya bisa sukses di tanah rantau dan suatu saat pulang membawa banyak rezeki untuk keluarga.
Pesan tersebut kini justru menjadi kenangan terakhir yang terus melekat dalam ingatan sang ibu.
Menurut Nur Handayani, Aldo juga pernah mengungkapkan keinginannya melalui pesan suara yang dikirimkan kepada adiknya. Dalam voice note tersebut, Aldo menyampaikan keinginan untuk memberangkatkan ibunya menjalankan ibadah umrah secara gratis.
Tak hanya itu, Aldo juga bercita-cita merenovasi rumah keluarganya.
Keinginan sederhana seorang anak untuk membahagiakan ibunya itu kini harus dikubur bersama kepergiannya.
Tangis keluarga semakin pecah ketika mengingat bahwa Aldo pergi merantau dengan membawa cita-cita besar tersebut.
Kesedihan serupa dirasakan sahabat masa kecil Aldo, Ardiyansah. Ia mengaku sudah mengenal Aldo sejak kecil dan hampir setiap hari mereka bermain bersama.
Menurut Ardiyansah, Aldo merupakan sosok yang sangat setia kawan dan dikenal suka membantu teman-temannya.
“Aldo itu orangnya solid, setia kawan dan suka menolong teman,” kenang Ardiyansah.
Komunikasi terakhir Ardiyansah dengan Aldo terjadi pada Jumat sebelum Aldo berangkat merantau menggunakan kapal. Saat itu, Aldo sempat mengirimkan foto bersama tiga temannya. Dalam foto tersebut, kepala Aldo sudah digunduli.
Aldo juga sempat berpamitan kepada sahabatnya dan menyampaikan tekad untuk pulang membawa kesuksesan.
Ardiyansah kemudian membalas pesan tersebut dengan ucapan perpisahan sederhana, “See you next time.”
Tak pernah terbayangkan oleh keduanya bahwa kalimat tersebut akan menjadi salam perpisahan terakhir.
Ardiyansah mengaku awalnya tidak mengetahui bahwa kapal yang tenggelam merupakan kapal yang ditumpangi Aldo. Kabar tersebut baru diketahuinya setelah mendapat informasi dari adik Aldo.
Sejak saat itu, rasa kehilangan menyelimuti dirinya dan teman-teman Aldo lainnya.
“Kami sangat kehilangan. Kaget juga ketika tahu Aldo menjadi salah satu korban,” ujar Ardiyansah.
Bagi para sahabat, Aldo bukan sekadar teman masa kecil. Ia dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul, setia kawan dan tidak segan membantu ketika ada teman yang membutuhkan.
Kini, rumah duka menjadi tempat bertemunya kenangan, doa dan air mata.
Peti biru yang membawa jasad Aldo menjadi penanda berakhirnya perjalanan seorang anak muda yang berangkat ke tanah rantau dengan membawa harapan besar.
Ia ingin bekerja, sukses, membawa pulang rezeki, membahagiakan ibunya dan memperbaiki rumah keluarganya.
Namun, takdir berkata lain.
Aldo pulang ke rumahnya di Ngringo bukan dengan membawa hasil jerih payah dari tanah Borneo, melainkan dalam peti jenazah, disambut tangis keluarga, sahabat dan tetangga yang merasa kehilangan.
Cita-cita Aldo untuk memberangkatkan ibunya umrah dan merenovasi rumah kini tinggal kenangan. Namun bagi keluarganya, pesan terakhir dan harapan yang pernah ia titipkan akan selalu hidup dalam ingatan. (Hds/K2)












