Umum  

Karhutla Lawu Jadi Duka Bersama, Generasi Muda PASMAGRISAKA Turun Tangan Bantu Relawan

IMG 20261018 211004
Siswa - Siswi SMA Negeri 1 Karanganyar yang tergabung dalam Organisasi Siswa pecinta alam PASMAGRISAKA ikut ambil peran dalam pemadaman Karhutla Gunung Lawu.

Kabar Karanganyar, — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Lawu bukan sekadar kobaran api yang melalap kawasan hutan. Bagi warga Karanganyar, bencana ini menjadi duka bersama, termasuk bagi generasi muda pecinta alam yang merasa terpanggil untuk ikut menjaga kelestarian alam yang mereka cintai.

Di tengah perjuangan relawan menjinakkan api di lereng Lawu, sejumlah pelajar yang tergabung dalam organisasi pecinta alam PASMAGRISAKA (Pecinta Alam SMA Negeri 1 Karanganyar) turut ambil bagian. Berbekal ketulusan dan semangat pengabdian, mereka bergabung dengan tim relawan sejak hari kedua penanganan karhutla, Jumat (16/10/2026).

Hingga Minggu (18/10/2026), saat upaya pemadaman memasuki hari ketiga, para pelajar tersebut masih terlibat membantu kebutuhan operasional tim di lapangan. Mereka tidak datang untuk sekadar menyaksikan bencana, tetapi berusaha mengambil peran sesuai kemampuan dan kebutuhan penanganan.

Di tengah medan pegunungan yang menantang, kontribusi mereka antara lain membantu distribusi logistik dari basecamp menuju Pos 3 serta mendukung kelancaran jalur pergerakan tim. Peran ini menjadi bagian penting dalam mendukung relawan yang berjibaku menghadapi kebakaran di kawasan hutan lindung Gunung Lawu.

Keterlibatan mereka juga menunjukkan bahwa pengabdian kepada alam tidak selalu harus diwujudkan dengan berada paling dekat dengan titik api. Dukungan logistik dan upaya menjaga kelancaran pergerakan personel menjadi bagian dari kerja bersama dalam menghadapi bencana.

Jumlah anggota yang terlibat pun bergantian. Pada Jumat, enam anggota turun membantu. Jumlah tersebut bertambah menjadi delapan orang pada Sabtu dan kembali delapan orang pada Minggu.

Berdasarkan keterangan anggota Pasmagrisaka melalui percakapan WhatsApp, enam anggota terlibat pada Jumat, yakni Krisna, Roni, Riffat, Faiz, Ezara, dan Rama. Pada Sabtu, delapan anggota yang ikut adalah Rama, Roni, Ezara, Riffat, Awan, Audry, Alunna, dan Krisna.

Sementara pada Minggu, delapan anggota kembali terlibat, yakni Audry, Alunna, Ezara, Yumna, Krisna, Riffat, Awan, dan Roni.

Di usia yang masih belia, para pelajar ini berusaha menerapkan nilai-nilai kecintaan terhadap alam yang mereka pelajari melalui organisasi. Semangat tersebut mereka wujudkan melalui tindakan nyata, membantu para relawan yang tengah berjuang menyelamatkan kawasan hutan dari ancaman api.

Bagi mereka, kepedulian terhadap alam tidak berhenti pada kegiatan pendakian, penjelajahan, atau aktivitas organisasi. Ketika Gunung Lawu menghadapi bencana, kecintaan itu diuji melalui kesediaan untuk ikut membantu, meski dengan peran sederhana.

Mereka berharap kebakaran segera teratasi dan kawasan hutan yang terdampak dapat pulih kembali. Lebih dari itu, bencana ini diharapkan menjadi pengingat bagi masyarakat agar semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan.

“Harapannya, semoga kebakaran di Gunung Lawu ini segera teratasi dan alamnya bisa pulih kembali. Kami juga berharap masyarakat bisa lebih sadar akan pentingnya menjaga lingkungan, karena menjaga alam itu bukan cuma tugas petugas atau pecinta alam, tapi tanggung jawab kita bersama,” demikian harapan anggota Pasmagrisaka. 

Di tengah kepungan api yang mengancam kelestarian Lawu, kehadiran para pelajar tersebut menjadi gambaran bahwa kepedulian tidak mengenal usia. Ketika alam terluka, generasi penerus pun memilih untuk tidak tinggal diam.

Sebab, menjaga Gunung Lawu bukan hanya tentang memadamkan api hari ini, melainkan juga memastikan hutan tetap lestari bagi generasi yang akan datang. (Hds/K2)