Kabar Karanganyar, — Penantian panjang Totok Haryono (50) sang ayah dan seorang kakak yang mempunyai akun sosmed @chevalino_chh menanti kepulangan putranya, Jevon Joechelin Jotham, korban tenggelamnya kapal Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, akhirnya terjawab. Setelah tim forensik rumah sakit Bhayangkara Banjarmasin kabari ayah Jevon bahwa jasad anaknya telah teridentifikasi pada hari Selasa (29/09/2026).
Namun, kepulangan yang dirindukan itu justru membawa duka paling dalam. Jevon kembali ke Karanganyar bukan untuk memeluk sang ayah, melainkan dalam peti jenazah, menyusul ibunya yang telah berpulang setahun lalu.
Harapan seorang ayah agar anaknya pulang dengan selamat kini berganti tangis kehilangan. Perjalanan Jevon ke Kalimantan untuk mencari penghidupan justru menjadi perjalanan terakhirnya.
Di sisi lain, sang kakak kandung hanya bisa meratapi kepergian adik tercinta. Ungkapan hatinya di media sosial menggambarkan betapa berat menerima kenyataan bahwa Jevon tak akan pernah kembali seperti dahulu.
“Dan kuwi pertama kali ne lan terakhir kali ne awakmu numpak kapal ya, Pon,” tulisnya, mengenang perjalanan pertama sekaligus terakhir sang adik menaiki kapal.
Kerinduan itu semakin terasa dalam kalimat sederhana yang ditujukan kepada Jevon.
“Pon, muleh yok, pora kangen ro masmu.” Tuang rindu sang kakak ( @Chevelino_Chh ) dalam komentar sosial media.
Sebuah panggilan pulang yang kini hanya bisa dijawab dalam kenangan. Sang kakak juga mengenang keinginan Jevon bepergian dan melihat tempat-tempat baru, sebelum perjalanan itu berubah menjadi tragedi yang merenggut nyawanya.
Berangkat Mencari Rezeki, Pulang Kembali Pusara Abadi
Totok menceritakan, Jevon merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ia berangkat pada Rabu, menyusul dua rekannya, Aldo dan Arda, yang lebih dahulu mendapatkan kesempatan bekerja di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan.
Kesempatan itu datang setelah Aldo mengabarkan adanya lowongan pekerjaan di perusahaan yang disebut PT Sinar Mas. Seluruh biaya administrasi keberangkatan, menurut Totok, ditanggung perusahaan.
Sebelum berangkat, Jevon berpamitan kepada ayahnya. Ia mengaku hendak mengikuti tes di Semarang sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kalimantan.
Komunikasi terakhir terjadi Sabtu (12/092026) sekitar pukul 21.30 WIB, saat Jevon berada di kapal. Ia berjanji menghubungi ayahnya kembali setelah tiba di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Minggu pagi.
Namun, telepon yang dinantikan tak pernah berdering.
Kabar kapal Virgo Transport 8 tenggelam justru diketahui Totok melalui TikTok. Ia segera mencocokkan informasi keberangkatan anaknya dan mencoba menghubungi ponsel Jevon, tetapi sudah tidak aktif.
“Saya langsung mencoba menghubungi, tetapi HP-nya sudah tidak aktif,” kenang Totok.
Dilanda kecemasan, ia bergegas ke Surabaya untuk mencari kabar putranya. Hari-hari berikutnya dilalui keluarga dalam ketidakpastian, menanti secercah harapan dari proses pencarian korban.
Kini, penantian itu berakhir dengan kepastian yang menyakitkan.
Dikenali dari Kalung dan Tanda Lahir
Totok mengungkapkan, identitas Jevon dipastikan melalui sejumlah ciri fisik, di antaranya gigi, kalung yang dikenakan, serta tanda lahir pada tubuh korban.
Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, Jevon ditemukan di dalam kapal. Jenazah sebenarnya telah ditemukan sebelumnya, tetapi identitasnya baru dipastikan setelah melalui proses identifikasi.
Pihak keluarga mendapat kabar jenazah akan diterbangkan dari Kalimantan menuju Semarang pada hari Rabu (30/09/2026) sekitar pukul 07.00 WIB, kemudian dibawa menggunakan ambulans ke Karanganyar.
Jevon direncanakan dimakamkan pukul 13.00 WIB di Pemakaman Purwo Loyo, Jebres, Surakarta dan akan berdampingan dengan pusara sahabatnya saat mengarungi laut Jawa dengan kapal Virgo transport 8 Aldo Nurahmansyah.
Kepulangan itu menjadi luka berlapis bagi keluarga. Belum genap setahun ditinggal sang ibu, Totok kini harus menerima kenyataan kehilangan putra tercintanya.
Jevon pergi membawa harapan untuk bekerja dan membangun masa depan. Ia pulang membawa duka, meninggalkan ayah dan kakaknya dalam kerinduan yang tak lagi bisa terobati oleh pertemuan.
Kini, tanah Karanganyar menjadi tempat peristirahatan terakhirnya. Sang ayah akhirnya bisa menyambut kepulangan anak yang begitu lama dinantikan, meski bukan dengan pelukan, melainkan doa dan air mata.
Selamat jalan, Jevon. Perjalananmu telah usai, tetapi cinta dan kenanganmu akan tetap hidup dalam hati keluarga. (Hds/K2)












