Kabar Karanganyar, – Juragan Kampoeng Banana Krezz, Aris Munandar, menawarkan sederet inovasi untuk menggerakkan roda perekonomian dan memperkuat dunia usaha di Kabupaten Karanganyar. Membawa gagasan pengembangan pariwisata hingga mendorong UMKM masuk rantai pasok industri besar, Aris kini melenggang sebagai calon tunggal Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Karanganyar periode 2026-2031.
Hingga penutupan bursa pendaftaran bakal calon pada Kamis (22/10/2026), tak ada kandidat lain yang mendaftar untuk menantang Aris. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi pengusaha asal Desa Salam, Kecamatan Karangpandan, itu untuk ditetapkan secara aklamasi dalam Musyawarah Kabupaten (Mukab) Kadin Karanganyar pada Selasa (27/10/2026), sesuai mekanisme organisasi yang berlaku.
Jika terpilih, Aris mengaku siap langsung tancap gas menjalankan program prioritas untuk memperkuat daya saing usaha lokal sekaligus memperluas dampak ekonomi bagi masyarakat. Dia menilai Karanganyar memiliki potensi besar yang perlu dikelola secara bersama-sama, terutama di tengah tekanan ekonomi, melemahnya daya beli masyarakat, dan persaingan antardaerah yang semakin ketat.
“Ini mungkin kepedulian kami untuk bisa membantu Kabupaten Karanganyar, tanah kelahiran saya, agar bisa berperan lebih luas. Bukan hanya di Desa Salam, Karangpandan dan sekitarnya, tetapi bagaimana dampaknya bisa dirasakan seluruh Kabupaten Karanganyar melalui Kadin,” ujar Aris, Kamis.
Aris mengaku telah menjadi anggota Kadin selama sekitar dua tahun. Pengalaman tersebut mendorongnya mengambil peran lebih besar dalam organisasi yang mewadahi dunia usaha tersebut. Baginya, Kadin harus mampu menjadi ruang kolaborasi untuk melahirkan inovasi sekaligus menjawab persoalan konkret yang dihadapi pengusaha.
Salah satu tantangan yang disorotinya adalah penurunan daya beli wisatawan di kawasan Tawangmangu. Aris mencontohkan, jika sebelumnya wisatawan mampu membelanjakan Rp100.000 hingga Rp200.000 selama berwisata, kini pengeluaran mereka cenderung di bawah Rp100.000.
Kondisi itu menuntut pelaku usaha berinovasi agar wisatawan tetap memperoleh pengalaman menarik dengan anggaran terbatas. Menurut Aris, pelaku usaha tidak cukup hanya mengandalkan potensi alam, tetapi juga harus mampu menghadirkan produk dan pengalaman wisata yang semakin kompetitif.
“Dulu orang datang ke Tawangmangu membawa Rp100.000 sampai Rp200.000. Sekarang di bawah Rp100.000. Karena itu, kita perlu menyiasati bagaimana uang Rp100.000 ini bisa mendapatkan lebih banyak,” katanya.
Garap Inovasi Wisata, Bidik Grojogan Sewu
Untuk menggerakkan sektor pariwisata, Aris bersama sejumlah pengusaha yang tergabung dalam Kadin Karanganyar mulai merancang berbagai gagasan pengembangan destinasi. Sekitar 20 pengusaha disebut telah berdiskusi untuk merumuskan program yang diharapkan mampu meningkatkan daya tarik wisata sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
Salah satu gagasan yang tengah dijajaki adalah keterlibatan Kadin dalam pengelolaan Grojogan Sewu. Aris menyebut kemungkinan tersebut masih dalam tahap pembahasan melalui jalur organisasi.
Selain itu, dia menawarkan penambahan atraksi wisata di kawasan Tawangmangu melalui konsep balon udara ala Capadocia. Pengembangan halal destination atau destinasi ramah wisatawan muslim juga masuk dalam gagasan yang ingin didorongnya.
Bagi Aris, inovasi menjadi kebutuhan mendesak agar destinasi wisata Karanganyar tidak tertinggal dari daerah lain yang terus berbenah. Penguatan kualitas lingkungan, pembaruan atraksi, serta kolaborasi antarpelaku usaha dinilai menjadi kunci menjaga minat kunjungan wisatawan.
“Kita perlu bergandengan tangan melalui program dan inovasi. Kalau kabupaten lain terus berkembang sementara kita tidak, saya yakin cepat atau lambat Karanganyar, Tawangmangu, dan Ngargoyoso akan ditinggalkan,” tegasnya.
Bidik Rp53 Triliun Perputaran Ekonomi
Tak hanya pariwisata, Aris juga membidik penguatan UMKM melalui keterlibatan mereka dalam rantai pasok industri besar di Karanganyar. Dia menyoroti besarnya nilai produk domestik regional bruto (PDRB) daerah yang disebut mencapai sekitar Rp53 triliun per tahun, tetapi peluang tersebut dinilainya belum sepenuhnya dinikmati pelaku usaha lokal.
Menurut dia, salah satu persoalannya terletak pada rantai pasok industri yang masih banyak bergantung pada pemasok dari luar daerah. Akibatnya, potensi perputaran uang belum sepenuhnya memberikan efek berganda bagi UMKM dan perekonomian masyarakat Karanganyar.
Aris ingin mendorong pemetaan kebutuhan perusahaan-perusahaan besar, kemudian mempertemukannya dengan potensi produk dan bahan baku yang dapat disediakan pelaku usaha lokal. Langkah tersebut diharapkan membuka pasar baru bagi UMKM sekaligus memperkuat keterhubungan antara sektor industri dan ekonomi kerakyatan.
Namun, dia mengingatkan bahwa UMKM harus meningkatkan kapasitas produksi, kualitas, daya saing harga, dan konsistensi pasokan agar mampu memenuhi standar kebutuhan industri. Dukungan pemerintah daerah melalui regulasi yang mendorong penggunaan produk lokal juga dinilai penting, sepanjang memenuhi persyaratan perusahaan.
Berbagai gagasan tersebut menjadi bekal Aris dalam menghadapi Mukab Kadin Karanganyar. Dengan status calon tunggal, perhatian berikutnya tertuju pada mekanisme penetapan kepemimpinan periode 2026-2031 dan sejauh mana program yang ditawarkan dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata.
Aris berharap Kadin ke depan tidak hanya menjadi wadah berhimpunnya pengusaha, tetapi juga motor kolaborasi yang mampu memperluas pasar UMKM, memperkuat pariwisata, serta memastikan potensi ekonomi Karanganyar memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat setempat. (Hds/K2).












