Kabar Karanganyar, — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Lawu terus meluas. Setelah tiga hari penanganan, luas kawasan hutan lindung yang terdampak diperkirakan mencapai 130 hektare, bertambah sekitar 30 hektare dari luasan sebelumnya. Bupati Karanganyar pun menetapkan status tanggap darurat bencana karhutla mulai 17 Oktober 2026. Pemerintah daerah kini mengajukan bantuan water bombing dan rekayasa cuaca kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mempercepat pemadaman.
Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Sugiharjo, mengatakan penetapan status tanggap darurat dilakukan di tengah meningkatnya luasan lahan yang terbakar. Hasil evaluasi penanganan pada hari ketiga menunjukkan api telah melahap kawasan hutan lindung sekitar 130 hektare.
“Sesuai hasil evaluasi di hari penanganan ketiga kemarin, ada peningkatan sekitar 30 hektare. Perkiraannya segitu, jadi luasan yang terbakar 130-an hektare,” ungkap Sugiharjo saat dihubungi melalui sambungan telepon WhatsApp, Minggu (18/10/2026)
Menurut dia, status tanggap darurat tersebut membuat penanganan bencana masih berada dalam kendali pemerintah daerah. Namun, penetapan status itu juga membuka peluang dukungan bantuan dari pemerintah pusat maupun pihak lain untuk memperkuat upaya penanggulangan kebakaran.
Sebagai langkah percepatan penanganan, Bupati Karanganyar telah mengirimkan surat permohonan kepada BNPB untuk mendukung operasi pemadaman melalui water bombing atau penyiraman air menggunakan helikopter. Dalam surat yang sama, pemerintah daerah juga mengajukan rekayasa cuaca agar hujan segera turun di kawasan lereng Lawu.
“Bupati sudah kirim surat ke BNPB untuk meminta bantuan water bombing di kawasan karhutla. Dalam surat yang sama, bupati juga mengajukan rencana rekayasa cuaca,” tambahnya.
Upaya tersebut dinilai penting mengingat kebakaran masih berpotensi meluas. Berdasarkan pantauan terakhir BPBD, titik api masih ditemukan di sejumlah kawasan, sementara hujan belum turun dan kecepatan angin di lokasi kebakaran berubah-ubah. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas dalam mengendalikan pergerakan api.
Api juga dilaporkan telah menjalar hingga kawasan di atas pertapaan Pringgondani. Meski demikian, berdasarkan pantauan terakhir, kebakaran belum memasuki jalur pendakian Gunung Lawu melalui Cemoro Kandang maupun jalur Tambak.
“Titik api saat ini terpantau di area atas Pringgondani, belum masuk jalur pendakian,” pungkas Sugiharjo.
Dengan luas kebakaran yang diperkirakan mencapai 130 hektare, percepatan penanganan menjadi krusial untuk mencegah api menjalar lebih jauh. Pemerintah daerah berharap dukungan pemadaman udara dan rekayasa cuaca dari pemerintah pusat dapat segera terealisasi, terutama di tengah kondisi angin yang berubah-ubah dan belum adanya hujan di kawasan lereng Lawu. (Hds/K2)












