Kabar Karanganyar, – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Karanganyar sepanjang 2026 mulai melumpuhkan aktivitas pertanian di Desa Jati, Kecamatan Jaten. Sekitar 50 hektare sawah terpaksa dibiarkan tidak ditanami pada musim tanam ketiga (MT III) karena petani tak lagi memiliki kepastian pasokan air. Khawatir merugi akibat gagal panen, petani memilih tidak mengambil risiko menanam di tengah kondisi cuaca yang tak kunjung diguyur hujan.
Di tengah ancaman kekeringan yang kian menghimpit, ratusan warga Desa Jati bersama Wakil Bupati Karanganyar menggelar salat istisqa atau salat meminta hujan di lapangan desa setempat, Jumat (16/10/2026). Salat berlangsung khidmat, dipimpin imam sekaligus khatib Dr. KH. R. A. M. Musta’im Nasuha, S.H., M.H., M.A., Dewan Fatwa MUI Surakarta sekaligus dosen Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta.
Salat istisqa tersebut menjadi ikhtiar spiritual masyarakat di tengah kekeringan yang kian berdampak terhadap aktivitas pertanian. Warga berharap hujan segera turun sehingga sumber air kembali terisi dan lahan pertanian dapat digarap kembali.
Kepala Desa Jati mengatakan, pasokan air irigasi dari waduk dan Bendung Samin sudah tidak mengalir. Kondisi itu membuat petani kesulitan mendapatkan air untuk mengolah sawah, terutama lahan yang tidak memiliki sumber air alternatif.
“Luas sawah di wilayah kami sekitar 240 hektare. Dari jumlah itu, kurang lebih 50 hektare tidak bisa ditanami karena tidak ada sumber air,” ujarnya.
Menurut dia, sebagian petani yang memiliki sumur dalam masih bisa mengandalkan sumber air tersebut. Kedalaman sumur di wilayah itu rata-rata mencapai sekitar 100 meter dan hingga kini dinilai masih relatif aman. Namun, petani yang tidak memiliki sumur memilih tidak menanam daripada mengambil risiko gagal panen.
Padahal, musim tanam ketiga sebenarnya berpotensi memberikan hasil yang menguntungkan. Selain peluang panen yang baik, harga hasil pertanian juga dinilai menjanjikan. Namun, tanpa kepastian ketersediaan air, petani memilih menahan diri karena khawatir biaya produksi tidak kembali.
Persoalan kekeringan tersebut sebelumnya telah dibahas melalui rembuk warga. Pemerintah desa juga menyampaikan kondisi yang dihadapi petani kepada Dinas Pertanian Kabupaten Karanganyar. Aduan masyarakat turut disampaikan melalui kanal Sapamas.
Di tengah situasi tersebut, muncul aspirasi agar pemerintah daerah memfasilitasi salat istisqa sebagai bentuk ikhtiar bersama memohon hujan. Aspirasi itu kemudian dibahas bersama warga hingga pelaksanaan salat istisqa digelar di lapangan Desa Jati.
Warga berharap hujan segera turun untuk mengakhiri kekeringan yang mengancam produktivitas pertanian. Jika kemarau terus berlanjut, lahan yang saat ini tidak ditanami berpotensi memperpanjang tekanan ekonomi petani, terutama mereka yang sepenuhnya bergantung pada air hujan dan aliran irigasi. (Hds/K2)












