Kabar Karanganyar, — Pusat pelatihan atlet paralympic di Delingan, Kabupaten Karanganyar, disebut sebagai yang terbaik dan terlengkap di Asia Tenggara untuk cabang olahraga paralimpik. Kehadiran fasilitas berstandar internasional ini diharapkan oleh Menpora Erick Thohir mampu menjadi motor penggerak peningkatan prestasi atlet National Paralympic Committee Indonesia (NPC) di berbagai ajang internasional mendatang.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Erick Thohir, saat melakukan kunjungan kerja ke Pusat Pelatihan Paralimpiade Delingan, Sabtu (14/02/2026). Kunjungan itu dalam rangka memastikan kesiapan atlet NPC menghadapi Paralympic Games Los Angeles 2028 serta ajang Para ASEAN Games 2026.
“Alhamdulillah saya bisa hadir di sini dan menyaksikan sendiri fasilitas yang luar biasa ini. Tadi saya dengar ini yang terbaik dan pertama di Asia Tenggara,” ujar Erick di hadapan para atlet, pelatih, dan official NPC.
Ia menegaskan, pemerintah hadir tanpa membedakan dukungan fasilitas bagi seluruh cabang olahraga, termasuk paralimpik. Menurutnya, kerja keras NPC, para pelatih, official, hingga atlet telah membuahkan hasil membanggakan, dengan capaian 135 medali emas pada berbagai ajang.
“Saya sangat mengapresiasi NPC, para atlet, Chief de Mission, dan pelatih atas prestasi 135 emas. Dan tentu apresiasi ini tidak hanya sebatas ucapan terima kasih,” tegasnya.
Erick menyampaikan, pemerintah tengah mendorong agar bentuk apresiasi tersebut segera memiliki payung keputusan resmi, sehingga dapat menjadi tabungan masa depan bagi para atlet. Selain itu, Kemenpora juga akan memberikan pendampingan literasi finansial agar atlet mampu mengelola penghargaan yang diterima secara bijak.
“Supaya apresiasi dari pemerintah ini bisa menjadi tabungan untuk masa depan para atlet. Nanti juga akan kita dampingi dengan literasi finansial,” imbuhnya.
Terkait pengembangan fasilitas, Erick mengungkapkan bahwa pembangunan tahap pertama telah berjalan baik. Untuk tahap kedua, pihaknya telah berkomunikasi dengan Presiden RI, Prabowo Subianto, guna memastikan penyelesaian dan penyempurnaan sarana prasarana yang ada.
Ia berharap, setelah seluruh fasilitas terlengkapi, aspek perawatan menjadi perhatian serius. Erick mendorong adanya terobosan mekanisme administrasi yang lebih fleksibel, termasuk peluang kerja sama dengan pihak swasta untuk mendukung maintenance.
“Komersialisasi boleh terbuka, selama diprioritaskan untuk perawatan aset tersebut. Jangan sampai fasilitas bagus, tapi tidak terawat karena persoalan administrasi,” tegasnya.
Menurutnya, Kemenpora telah menjalin kerja sama agar fasilitas olahraga yang dibangun pemerintah pusat maupun daerah dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga, sepanjang sesuai payung hukum dan tetap mengutamakan kepentingan atlet.
“Insya Allah Kemenpora juga akan membantu biaya perawatan dengan sistem hibah. Semoga aset terbaik dan pertama di Asia Tenggara ini bisa terus terjaga,” katanya.
Dengan keberadaan training center paralimpik berstandar unggul di Delingan ini, diharapkan NPC mampu meningkatkan kualitas pembinaan dan menorehkan prestasi lebih tinggi di pentas internasional, mengharumkan nama bangsa dan negara di berbagai kompetisi dunia.(Hds/K2)












