Kabar Karanganyar, — Kekeringan akibat musim kemarau panjang mulai berdampak pada warga Kabupaten Karanganyar. Kesulitan air bersih dilaporkan terjadi di dua wilayah di Kecamatan Jumapolo, yakni Dusun Nglaban, Desa Bakalan, dan Dusun Jloko. Merespons kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar bergerak cepat dengan menyalurkan bantuan air bersih ke kedua dusun pada Senin (12/10/2026).
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Karanganyar, Sugiharjo, mengatakan pihaknya telah melakukan dua kali dropping atau pengiriman air bersih ke wilayah terdampak setelah menerima laporan kekeringan melalui hotline Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD.
“BPBD Karanganyar hari ini sudah melakukan dua kali dropping air ke wilayah Jloko dan Nglaban, sebagaimana laporan yang diterima melalui saluran hotline TRC BPBD terkait kekeringan di wilayah tersebut,” ujar Sugiharjo.
Penyaluran bantuan tersebut menjadi langkah penanganan darurat untuk membantu warga yang mulai kesulitan mendapatkan air bersih di tengah keterbatasan sumber air.
Di Dusun Nglaban, Desa Bakalan, persoalan kekurangan air bersih disebut telah berlangsung sekitar lima tahun. Berdasarkan asesmen awal Serikat Tani Bumi Lestari (SERTA BUMI), sekitar 60 kepala keluarga (KK) di RT 01 dan RT 02/RW 09 terdampak keterbatasan akses air bersih.
Sejumlah sumur gali milik warga mengering, sementara debit mata air atau belik yang selama ini dimanfaatkan masyarakat dilaporkan menurun. Kondisi tersebut membuat warga harus mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Warga sebenarnya pernah memiliki akses terhadap sumur dalam dengan kedalaman sekitar 130 meter yang dibangun untuk melayani kebutuhan air bersih tiga dusun. Namun, debit air sumur tersebut dinilai tidak mampu memenuhi kebutuhan seluruh wilayah pelayanan. Sarana itu kini memerlukan pemeriksaan teknis untuk mengetahui kemungkinan perbaikan dan pengoperasian kembali.
Hasil asesmen SERTA BUMI memperkirakan kebutuhan air bersih sekitar 60 KK di Dusun Nglaban mencapai 7.800 hingga 18.000 liter per hari. Sementara itu, bantuan air bersih yang sebelumnya diterima dari BMT Jumapolo berupa satu tangki berkapasitas sekitar 8.000 liter dinilai belum mampu menjamin pemenuhan kebutuhan seluruh warga.
Selain penanganan darurat melalui suplai air bersih, warga membutuhkan tangki penampungan berkapasitas 8.000 liter serta solusi jangka panjang berupa perbaikan sumur dalam yang telah ada atau pembangunan sumber air baru berdasarkan kajian teknis.
Sugiharjo mengimbau masyarakat yang mengalami kekeringan maupun kesulitan memperoleh air bersih agar segera melaporkan kondisi tersebut kepada BPBD Karanganyar melalui hotline TRC.
“Bagi masyarakat yang merasakan wilayahnya mengalami kekeringan atau kesulitan air bersih, silakan langsung menghubungi hotline TRC BPBD Karanganyar dan menyertakan share location atau titik lokasi agar tim segera mengirimkan air sesuai kebutuhan,” tegasnya.
BPBD berharap laporan masyarakat dapat mempercepat pemetaan wilayah terdampak dan penyaluran bantuan. Dengan demikian, warga yang mengalami kesulitan air bersih dapat segera memperoleh penanganan, terutama selama musim kemarau masih berlangsung.
Penanganan kekeringan juga membutuhkan koordinasi berbagai pihak agar bantuan air bersih tidak hanya menjadi solusi sementara, tetapi diikuti upaya penyediaan sumber air yang memadai dan berkelanjutan bagi masyarakat terdampak. (Hds/K2)












