Kabar Karanganyar, – Kecemasan keluarga korban tragedi KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa kian bertambah. Jika sebelumnya hanya satu warga Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, yang diketahui masuk dalam daftar penumpang kapal tersebut, kini terungkap ada tiga pemuda dari desa yang sama yang diduga ikut dalam pelayaran nahas itu.
Mereka adalah Jevon Joechelin Jotham, 19, Aldo Nurahmansyah, 19, dan Ahda Dhiyaurohman, 18 untuk bekerja. Namun setelah KM Virgo Transport 8 mengalami musibah di perairan Laut Jawa, kabar mengenai keberadaan mereka hingga kini masih menjadi tanda tanya.
Belum ada informasi yang memastikan ketiganya telah ditemukan. Pihak Desa Ngringo menyebut informasi dari tim pencarian dan pertolongan juga belum memberikan kepastian mengenai kondisi ketiga pemuda tersebut.
Yang membuat keluarga semakin cemas, ketiga pemuda itu diketahui memang berangkat bersama. Mereka merupakan teman yang tinggal di kawasan Ngringo dan diduga memiliki hubungan pertemanan cukup dekat.
PJ Kepala Desa Ngringo, Apri Linawati, membenarkan adanya informasi terbaru tersebut.
“Yang berangkat dari Ngringo itu ternyata tiga orang. Bertiga berangkatnya bersama,” ujar Apri saat dikonfirmasi.
Menurut Apri, dua nama lainnya sebelumnya belum teridentifikasi sebagai warga Karanganyar dalam penelusuran awal data manifest. Hal itu terjadi karena status administrasi kependudukan mereka masih tercatat di daerah lain.
Aldo diketahui masih memiliki KTP Surakarta. Namun keluarganya selama ini tinggal dengan status mengontrak di wilayah Ngringo. Sementara Ahda Dhiyaurohman, 18 tercatat ber-KTP Surakarta, dan tetapi sebenarnya telah memiliki rumah sendiri di Ngringo tinggal bersama keluarganya.
Kondisi tersebut membuat keberadaan kedua pemuda itu sempat tidak langsung terbaca sebagai warga yang tinggal di Ngringo.
Padahal, menurut informasi yang diterima pemerintah desa, ketiganya memang berangkat bersama dalam satu perjalanan.
Lebih jauh, perjalanan tersebut bukan sekadar perjalanan biasa. Ada cerita pertemanan dan rencana mencari pekerjaan yang membuat ketiganya berada di kapal yang sama.
Aldo disebut sudah pernah bekerja di lokasi tujuan di Banjarmasin. Saat pulang ke kampung halaman, ia kemudian mengajak dua rekannya, Jefon dan Ahda, untuk ikut bekerja di tempat tersebut.
Ketiganya pun berangkat bersama menuju Surabaya sebelum menaiki KM Virgo Transport 8 dengan tujuan Samarinda.
Kini perjalanan mencari penghidupan itu berubah menjadi penantian panjang bagi keluarga.
Kabar mengenai musibah kapal tersebut membuat keluarga ketiga pemuda itu berusaha mendapatkan kepastian. Namun hingga Senin (14/9/2026), belum ada informasi resmi yang memastikan kondisi Jevon, Aldo maupun Ahda.
“Kalau dari Basarnas sementara belum ada informasi. Berarti kemungkinan masih dalam proses pencarian,” kata Apri.
Kecemasan juga dirasakan keluarga Ahda. Ibunya disebut masih dalam kondisi syok sehingga belum dapat diajak berkomunikasi secara maksimal.
Sementara Jevon diketahui merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Ibunya telah meninggal sekitar tiga tahun lalu. Selama ini Jefon tinggal bersama ayahnya di Ngringo, sedangkan kakaknya bekerja di Bali.
Keluarga Jevon bahkan telah menyusul menuju Surabaya untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai keberadaan anak mereka.
Pemerintah Desa Ngringo kini terus melakukan koordinasi dengan pihak terkait. Identitas ketiga pemuda tersebut juga telah disampaikan untuk membantu pencocokan data manifest penumpang.
“Ini sudah kami koordinasikan. Data identitasnya kami teruskan supaya bisa disampaikan ke pimpinan dan dicek kembali,” ungkap Apri.
Sementara itu, warga Ngringo kini menunggu kabar yang sama: di mana Jevon, Aldo dan Ahda?
Tiga pemuda yang berangkat bersama untuk mencari pekerjaan itu kini belum diketahui nasibnya setelah KM Virgo Transport 8 mengalami musibah di Laut Jawa.
Keluarga masih berharap, nama-nama mereka bukan sekadar tercatat dalam manifest penumpang, tetapi segera ditemukan dalam keadaan selamat. (Hds/K2)












