Batik Girilayu Didorong Naik Kelas, Modernisasi Digencarkan Tanpa Tinggalkan Pakem Tradisi

IMG 20260912 WA0181
Siti Fauziah Sekretaris Jendral MPR RI resmikan Galery Batik Girilayu di Matesih Karanganyar.

Kabar Karanganyar, – Batik Girilayu didorong untuk naik kelas. Para pengrajin di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, diminta berani mengembangkan desain, teknologi produksi hingga strategi pemasaran agar mampu menembus pasar nasional bahkan internasional.

Dorongan tersebut mengemuka dalam peresmian Galeri Batik Girilayu di kompleks Astana Giribangun, Matesih, Sabtu (12/9/2026), yang diresmikan Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah.

Siti Fauziah menilai Girilayu memiliki modal kuat untuk mengembangkan industri batik. Selain memiliki tradisi membatik yang telah mengakar, kawasan tersebut kini mulai menunjukkan regenerasi perajin dengan keterlibatan anak-anak muda.

Menurut dia, perkembangan itu harus diikuti dengan keberanian melakukan inovasi. Batik tradisional tetap harus dipertahankan sebagai identitas, tetapi produk yang menyasar kebutuhan sehari-hari perlu dikemas lebih modern agar semakin dekat dengan generasi muda.

“Harapan saya, pembatik di Girilayu tidak hanya berkiprah di lingkungan desa, tetapi mulai meluas ke tingkat provinsi, nasional, hingga mendunia,” kata Siti Fauziah seusai peresmian.

Keterlibatan Gen-Z Dalam Pelestarian dan Peningkatan Produk Batik

Ia menyebut regenerasi perajin menjadi salah satu kekuatan penting Batik Girilayu. Saat ini, generasi muda, termasuk Gen Z berusia sekitar 18 tahun hingga sarjana seni, telah mulai terlibat dalam proses penciptaan dan pengembangan motif.

Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tanda bahwa keberadaan batik Girilayu memiliki peluang besar untuk terus bertahan lintas generasi.

“Artinya regenerasi itu sudah berjalan. Batik Girilayu ini tidak akan punah, dan itu yang perlu kita lestarikan ke tingkat yang lebih baik lagi,” tegasnya.

Namun, pelestarian tradisi tidak berarti menutup pintu terhadap perkembangan teknologi. Siti Fauziah justru mendorong pengrajin mulai mengadopsi peralatan produksi yang lebih modern, termasuk teknologi cetak atau cap, terutama untuk produk yang diproduksi dalam jumlah besar.

Modernisasi tersebut dinilai dapat mempercepat proses produksi, menekan biaya dan pada akhirnya membuat harga batik lebih mudah dijangkau masyarakat.

“Kalau pakem tradisional itu harus tetap ada. Tapi sentuhan modern juga sangat diperlukan sekarang untuk busana harian. Jika ada modernisasi alat, produksinya bisa lebih masif dan semakin banyak masyarakat yang bisa menggunakan,” ujarnya.

Bagi Siti Fauziah, modernisasi bukan untuk menggantikan batik tulis. Justru teknologi dapat digunakan untuk memperluas pasar, sementara batik tulis dengan motif dan teknik tradisional tetap ditempatkan sebagai produk bernilai seni dan warisan budaya.

Ia juga menyoroti sisi pemasaran. Menurutnya, kemampuan menghasilkan batik berkualitas harus diimbangi strategi promosi yang mampu mengikuti perubahan perilaku konsumen.

Digitalisasi dan pemasaran melalui berbagai platform modern dinilai menjadi pintu penting untuk membawa produk Girilayu keluar dari pasar lokal.

Terkait dukungan, Siti Fauziah mengatakan pemerintah daerah bersama pihak terkait telah menyiapkan rencana bantuan peralatan untuk mendukung proses modernisasi. Sementara dari sisi Sekretariat Jenderal MPR RI, dukungan akan diarahkan pada penguatan kebijakan di tingkat pusat.

Inovasi Motif dan strategi pemasaran diarahkan ke Generasi muda

Koordinator Paguyuban Batik Girilayu, Nyoto Mulyono, menyambut dorongan tersebut. Menurutnya, pengrajin tidak bisa hanya mengandalkan pasar konvensional apabila ingin membawa Batik Girilayu bersaing dengan produk dari berbagai daerah bahkan pasar global.

Paguyuban Batik Girilayu saat ini menaungi 12 kelompok dengan sekitar 600 pengrajin. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 hingga 300 pengrajin masih aktif menjalankan produksi.

Nyoto mengatakan, pihaknya kini mulai mengembangkan motif-motif turunan yang lebih modern dengan harga yang lebih terjangkau. Strategi tersebut sengaja diarahkan untuk merebut pasar anak muda yang membutuhkan batik dengan desain lebih fleksibel dan harga yang tidak terlalu tinggi.

“Segmen yang sedang kami kejar adalah generasi milenial. Karena itu, kami tidak bisa meninggalkan teknologi dan digitalisasi. Kami berencana berkolaborasi untuk belajar sistem batik digital terbaru agar bisa bersaing,” ungkapnya.

Meski demikian, Nyoto memastikan modernisasi tidak akan menghapus karakter utama Batik Girilayu.

Batik tulis dengan pengerjaan tangan, menurut dia, tetap dipertahankan sebagai ikon sekaligus warisan yang menjadi pembeda produk Girilayu dengan batik produksi massal menggunakan mesin.

“Batik tulis tangan asli akan tetap menjadi ikon dan warisan luhur yang kami pertahankan,” tegasnya.

Dari sisi harga, produk Batik Girilayu memiliki rentang yang cukup lebar. Batik klasik dengan pakem keraton dipasarkan mulai sekitar Rp700 ribu hingga puluhan juta rupiah. Bahkan, salah satu karya pernah mencapai Rp23 juta.

Sementara motif turunan yang menyasar konsumen menengah ke bawah dan kalangan muda dipasarkan pada kisaran Rp250 ribu hingga Rp500 ribu.

Tak hanya mengejar penjualan, pengrajin Girilayu juga berupaya memastikan tradisi membatik tidak berhenti sebagai aktivitas ekonomi. Edukasi budaya terus dilakukan melalui kerja sama dengan Dinas Pendidikan.

Para pengrajin secara rutin memberikan materi life skill membatik di sekolah sekaligus membuka kesempatan bagi pelajar untuk mengenal proses membatik melalui kegiatan outing class.

Di tengah upaya mempertahankan tradisi, sejumlah motif Girilayu juga mulai mendapat perhatian lebih luas. Salah satunya motif Tridharma yang telah memiliki hak paten dan mengambil inspirasi dari kekayaan alam serta hasil bumi kawasan setempat.

Nyoto mengatakan motif tersebut telah digunakan sejumlah pejabat daerah dan instansi negara. Bahkan, Batik Girilayu kini mendapat peluang untuk diperkenalkan dalam forum kamar dagang di Taiwan.

Langkah itu menjadi bagian dari ambisi pengrajin Girilayu membawa batik khas lereng Lawu tersebut keluar dari kandang sendiri.

Pesannya jelas: teknologi boleh berubah, desain boleh berkembang, pasar boleh diperluas. Namun identitas Batik Girilayu tidak boleh ikut hilang. Tradisi tetap menjadi akar, sementara modernisasi menjadi kendaraan untuk membawanya melangkah lebih jauh. (Hds/K2)