Asap Kebakaran TPA Putri Cempo Kepung Plesungan, Ratusan Warga Gondangrejo Mengungsi

IMG 20260905 163510
Situasi GOR UTP yang digunakan untuk tempat pengungsian sementara warga Plesungan yang terdampak asap kebakaran TPA Putri Cempo.

Kabar Karanganyar, – Asap pekat kebakaran TPA Putri Cempo, Mojosongo, Solo, yang terbakar sejak Senin (1/09/2026) hingga hari ke 4 kali ini kembali meneror warga di wilayah Plesungan, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Ratusan warga yang permukimannya terpapar asap terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi ke GOR UTP Plesungan karena kualitas udara memburuk dan mulai mengganggu pernapasan.

Kepulan asap tebal dilaporkan masuk ke permukiman sejak waktu Maghrib hingga pagi hari. Angin yang terus membawa asap ke arah kawasan warga membuat udara sulit dihirup, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.

Kondisi itu memaksa warga dari wilayah terdampak, termasuk Sulurejo RT 8 dan RT 9, mencari tempat aman. Di GOR UTP, sekitar 100 hingga 150 warga kini bertahan di posko pengungsian sementara.

Kalakhar BPBD Karanganyar Sugiharjo mengatakan, evakuasi dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap paparan asap yang berpotensi membahayakan kesehatan. Namun, status pengungsian masih bersifat tentatif dan sangat bergantung pada arah pergerakan asap.

“Kalau arah asap tidak ke utara, warga bisa kembali. Tetapi kalau kondisinya membahayakan, warga kembali ke posko,” kata Sugiharjo, Sabtu (5/9/2026).

Kelompok yang paling banyak berada di posko adalah anak-anak, ibu-ibu dan lansia. BPBD bersama pemerintah daerah telah menyiapkan kasur lipat, MCK, listrik serta kebutuhan makanan tiga kali sehari.

Posko kesehatan juga disiagakan dengan melibatkan Dinas Kesehatan dan relawan. Ambulans ditempatkan dalam kondisi siaga 24 jam untuk mengantisipasi warga yang membutuhkan penanganan medis.

Dampak asap bahkan telah dirasakan langsung warga. Seorang lansia mengalami sesak napas dan harus mendapatkan penanganan medis. Warga tersebut kemudian dirujuk ke Puskesmas Karyoso.

Kesaksian warga menggambarkan betapa pekatnya asap yang menyelimuti permukiman. Ibu Titik (42), warga RT 07 Sulurejo, mengatakan asap mulai masuk ke rumah-rumah warga sejak Maghrib dan bertahan hingga pagi.

Ia akhirnya memilih meninggalkan rumah bersama keluarganya. Dua anak dan ayahnya ikut dievakuasi karena kondisi udara dinilai sudah tidak memungkinkan untuk bertahan di dalam rumah.

“Asapnya tebal sekali. Masuk ke rumah. Napas sudah ngap-ngap, apalagi anak-anak dan orang tua,” ujar Titik.

Menurutnya, warga sebenarnya bukan kali pertama menghadapi kepungan asap. Kejadian serupa pernah terjadi sekitar tiga tahun lalu.

Kondisi tersebut memunculkan keresahan baru. Warga menilai persoalan penumpukan sampah yang terus bertambah harus menjadi perhatian serius, terlebih ketika memasuki musim kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran.

Bagi warga, persoalannya bukan hanya bagaimana memadamkan api ketika kebakaran terjadi. Mereka meminta pemerintah mengevaluasi pengelolaan sampah secara menyeluruh agar kebakaran dan kepungan asap tidak terus menjadi bencana tahunan.

Upaya pemadaman sendiri masih dilakukan petugas, termasuk secara manual dan menggunakan helikopter melalui water bombing. Namun, selama asap masih terbawa angin menuju permukiman, warga belum sepenuhnya merasa aman.

BPBD Karanganyar pun menyiapkan skenario lanjutan. GOR UTP sementara diizinkan digunakan sebagai posko pengungsian hingga Selasa.

Jika setelah Selasa kondisi belum aman, lokasi pengungsian akan dipindahkan ke lapangan tenis yang akan dilengkapi tenda darurat. Langkah itu disiapkan terutama untuk memberikan ruang yang lebih aman bagi anak-anak dan kelompok rentan.

Untuk sementara, warga masih harus menunggu arah angin dan perkembangan kebakaran. Rumah yang biasanya menjadi tempat berlindung kini justru harus ditinggalkan, sementara asap dari timbunan sampah di wilayah tetangga terus menjadi ancaman bagi permukiman Plesungan. (Hds/K2)