Kabar Karanganyar, – Bawang putih Tawangmangu disiapkan menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan nasional. Komoditas pertanian khas kawasan lereng Lawu itu memiliki varietas lokal unggulan yang dinilai mempunyai produktivitas tinggi serta karakter umbi dan aroma yang mampu bersaing dengan bawang dari luar daerah maupun produk impor.
Potensi tersebut terlihat dalam kegiatan Panen Raya Bawang Putih Nasional bersama Kapolri yang digelar di lahan pertanian bawang Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Rabu (19/8/2026).
Wakapolda Jawa Tengah Brigjen Pol Dr. Latif Usman, S.I.K., M.Hum., mengatakan Jawa Tengah memiliki posisi strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya komoditas bawang ini.
Menurutnya, pengembangan bawang tidak hanya dilakukan di Tawangmangu, tetapi juga tersebar di sejumlah daerah seperti Batang, Tegal, Pekalongan, Temanggung, dan Semarang.
“Jawa Tengah ini menjadi salah satu penyokong utama bawang putih nasional. Kontribusinya mencapai sekitar 63 persen dari kebutuhan bawang putih nasional,” kata Latif dalam keterangannya.
Tawangmangu sendiri diarahkan sebagai salah satu sentra utama bawang sekaligus pengembangan bibit. kawasan Tawangmangu memiliki karakter pertanian yang cocok untuk pengembangan bawang putih.
Dalam kegiatan tersebut, Polda Jawa Tengah juga turut mendorong peningkatan produktivitas petani melalui koordinasi dukungan kebutuhan pertanian, mulai dari pupuk hingga alat dan mesin pertanian (alsintan).
Latif menegaskan, dukungan tersebut merupakan bagian dari upaya Polri menjalankan instruksi pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus memastikan kebutuhan dan aspirasi petani dapat terakomodasi.
“Yang paling penting adalah bagaimana kebutuhan petani bisa kita fasilitasi, sehingga produktivitas terus meningkat dan Jawa Tengah tetap menjadi penyokong pangan nasional,” ujarnya.
Potensi besar bawang putih Tawangmangu juga disampaikan Ketua Gapoktan Ngudi Rezeki sekaligus Taruna Tani Maju, Bejo Supriyanto. Ia mengatakan petani Tawangmangu kini memiliki varietas lokal Tawangmangu Baru yang menjadi salah satu andalan dalam pengembangan bawang putih.
Varietas tersebut memiliki produktivitas sekitar 15 ton per hektare dalam kondisi cabut basah. Angka itu dinilai lebih tinggi dibandingkan sejumlah varietas lain yang rata-rata menghasilkan sekitar 10 ton per hektare.
Selain produktivitas, keunggulan Tawangmangu Baru terletak pada ukuran umbi yang lebih besar serta aroma bawang yang kuat.
“Keunggulannya produktivitas bisa mencapai 15 ton per hektare cabut basah. Umbinya juga lebih besar dan aromanya kuat sehingga bisa bersaing dengan produk impor,” ujar Bejo.
Pengembangan varietas lokal tersebut sekaligus menjadi modal petani Tawangmangu untuk mendukung target swasembada bawang putih nasional yang diarahkan pemerintah pada 2028-2029.
Bejo menyebut, saat ini penanaman masih dilakukan secara mandiri oleh para petani. Harga pokok produksi (HPP) bawang putih cabut basah ditetapkan sekitar Rp12.000 per kilogram, sedangkan harga benih berada di kisaran Rp46.000 per kilogram.
Di Kelurahan Kalisoro, potensi pengembangan bawang mencapai sekitar 30 hingga 40 hektare yang dikelola enam kelompok tani di bawah Gapoktan Ngudi Rezeki.
Penanaman dimulai sejak Mei 2026 dan memasuki masa panen secara bertahap pada Agustus hingga September. Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan produksi.
Menurut Bejo, kondisi kemarau justru relatif menguntungkan bagi tanaman bawang karena komoditas tersebut membutuhkan kondisi panas dan minim hujan untuk menghasilkan umbi secara optimal.
“Kalau untuk bawang putih, cuaca panas dan tidak banyak hujan justru bagus. Tantangan utamanya memang cuaca, tetapi kondisi sekarang cukup mendukung,” katanya.
Dalam rangka memperkuat produksi, Polda Jawa Tengah mencatat kegiatan tanam serentak telah mencakup sekitar 11,8 hektare, sementara panen raya bawang ditargetkan mencapai sekitar 110 hektare hingga September mendatang.
Dengan potensi lahan, dukungan petani, serta keberadaan varietas Tawangmangu Baru, Tawangmangu kini tidak hanya dipandang sebagai kawasan penghasil bawang untuk kebutuhan lokal. Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi salah satu sumber produksi dan bibit yang mampu memasok kebutuhan bawang putih ke berbagai daerah.
Penguatan sentra bawang Tawangmangu pun menjadi bagian penting dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar sekaligus mendorong terwujudnya swasembada bawang putih nasional. (Hds/K2)












