Kabar Karanganyar, – Kabar duka datang dari keluarga pahlawan devisa asal Desa Gayamdompo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar. Heru Santoso (24), pekerja magang asal Sembung RT 03/RW 02, meninggal dunia setelah tenggelam di sebuah sungai di Prefektur Kanagawa, Jepang, Kamis (13/8/2026).
Ironisnya, musibah tersebut terjadi ketika masa magang kerja Heru di Jepang selama tiga tahun telah selesai dan menunggu masa kepulangan. Heru disebut tengah mengisi waktu libur bersama tiga rekannya sebelum kembali ke Indonesia.
Informasi mengenai kejadian tersebut pertama kali diterima melalui laporan ke nomor darurat 110 sekitar pukul 15.10 waktu Jepang. Laporan berasal dari sebuah toko di sekitar Sungai Kurokura, Kota Yamakita, Prefektur Kanagawa.
Dalam informasi kepolisian Jepang yang beredar di media sosial @Jepanterkininews, Heru diketahui datang bersama tiga rekan sesama warga negara Indonesia untuk bermain di sekitar sungai.
Saat berada di lokasi, Heru diduga melompat dari sebuah bendungan pengendali pasir atau sabo dam dengan ketinggian sekitar lima meter ke aliran sungai yang memiliki kedalaman sekitar empat meter.
Salah seorang rekannya yang menyaksikan kejadian tersebut kemudian meminta bantuan sebuah toko di sekitar lokasi untuk menghubungi polisi.
Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disdagperinaker) Kabupaten Karanganyar, Agung Wahyu Utomo, membenarkan kabar meninggalnya warga Karanganyar tersebut.
“Memang betul ada warga negara Indonesia, warga Karanganyar yang kemarin tanggal 13 Agustus 2026 sekitar pukul 14.30 waktu Jepang meninggal dunia karena tenggelam saat melakukan kegiatan refreshing di sungai,” kata Agung saat dikonfirmasi, Jumat (14/08/2026).
Menurut Agung, Heru merupakan peserta program pemagangan ke Jepang yang berada di bawah pembinaan salah satu lembaga pelatihan kerja (LPK) di Karanganyar. Heru telah menjalani masa magang hampir tiga tahun dan saat ini memang sudah memasuki waktu untuk kembali ke Indonesia.
Heru diketahui bekerja di perusahaan Highness Co. Ltd yang beralamat di Nakano, Tokyo, dengan pekerjaan di bidang pertukangan atau carpentry work.
“Sebagai magang ke Jepang, salah satu lembaga pelatihan kerja Hiro yang di Karanganyar menaunginya. Korban sudah hampir tiga tahun di Jepang dan memang waktunya pulang,” ujar Agung.
Agung mengatakan, pihak Disdagperinaker Karanganyar telah menerima informasi mengenai musibah tersebut dan terus melakukan koordinasi dengan lembaga pelatihan kerja yang menaungi Heru.
Saat ini proses pemulangan jenazah masih berlangsung. Sesuai informasi yang diterima, proses di Jepang masih harus melalui tahapan pemeriksaan dan otopsi sebelum jenazah dapat dipulangkan ke Indonesia.
“Memang mekanisme di Jepang harus dilakukan otopsi. Informasinya masih tanggal 19 Agustus. Dari LPK juga sudah berkoordinasi dengan konsuler di Tokyo untuk pengurusan dokumen, asuransi dan pemulangan jenazah,” jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Karanganyar melalui Disdagperinaker memastikan akan terus memantau proses tersebut. Selain mengawal pemulangan jenazah, pemerintah juga memastikan hak-hak Heru sebagai peserta program pemagangan dapat dipenuhi sesuai ketentuan.
“Kami akan memantau agar jenazah bisa segera dikembalikan dan hak-haknya juga bisa terpenuhi,” tegas Agung.
Kepergian Heru meninggalkan duka mendalam bagi keluarga di Karanganyar. Perjalanan hampir tiga tahun di Jepang yang diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar membangun masa depan, justru berakhir tragis ketika dirinya tengah bersiap menutup masa pemagangan dan kembali ke tanah air.
Kini keluarga masih menunggu kepastian proses administrasi dan pemulangan jenazah Heru dari Jepang agar dapat kembali ke Karanganyar untuk dimakamkan di tanah kelahirannya. (Hds/K2)












