Kabar Karanganyar, – Ratusan siswa penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) milik yayasan Insan Berlian Sejahtera yang beralamat di Pundungrejo, Jati, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, gagal menikmati makanan yang seharusnya mereka terima pada Rabu (12/8/2026).
Makanan yang telah disiapkan untuk didistribusikan ke sejumlah penerima manfaat itu ditarik kembali oleh pihak SPPG setelah ditemukan adanya sebagian menu yang dinilai tidak layak dikonsumsi.
Salah satu sekolah yang terdampak adalah SD Negeri 2 Jati. Sebanyak 94 siswa di sekolah tersebut seharusnya menerima paket MBG pada Rabu pagi. Namun, makanan yang dibawa menggunakan kendaraan distribusi tidak sempat diturunkan dan langsung dibawa kembali ke dapur SPPG.
Roni, salah seorang guru SD Negeri 2 Jati, mengatakan kendaraan pengangkut MBG tiba di sekolah sekitar pukul 08.00 WIB. Namun sebelum makanan dibagikan kepada siswa, pihak sekolah mendapat informasi bahwa distribusi MBG untuk hari itu dibatalkan karena terdapat sebagian menu yang kurang layak konsumsi.
“Mobilnya datang, terus belum sampai diturunkan, sudah langsung kembali lagi. Jadi belum diturunkan,” kata Roni.
Menurutnya, pihak sekolah kemudian menyampaikan informasi tersebut kepada para siswa. Sebab, biasanya setelah jam istirahat para siswa sudah menunggu makanan dari program MBG.
Roni mengatakan, informasi yang diterima sekolah saat itu menyebutkan bahwa penghentian distribusi hanya dilakukan untuk hari tersebut. Sementara untuk pelaksanaan MBG pada hari berikutnya, sekolah masih menunggu informasi lebih lanjut dari pihak pengelola.
Kepala SPPG Pundungan, Abra Yoda, membenarkan adanya penarikan makanan tersebut. Ia menjelaskan persoalan ditemukan ketika proses pemasakan batch kedua.
Menurut Abra, pada pemeriksaan awal saat bahan makanan diterima, kondisi ayam yang menjadi bahan menu dinilai masih baik. Namun ketika masuk dalam proses pemasakan batch kedua, staf dan ahli gizi menemukan adanya ayam yang memiliki rasa dan aroma tidak seperti seharusnya.
Menu yang bermasalah tersebut merupakan ayam rempah.
“Staf sama ahli gizi laporan kepada saya, ada masakan yang rasanya dan baunya kayaknya enggak enak. Saya langsung ke dapur, saya kroscek dan saya cicipi yang terindikasi tidak layak,” ujar Abra.
Setelah dilakukan pengecekan, pihak SPPG memilih mengambil langkah pencegahan dengan menghentikan seluruh distribusi makanan dari batch kedua. Keputusan tersebut diambil untuk memastikan makanan yang didistribusikan kepada penerima manfaat benar-benar aman dikonsumsi.
Abra mengatakan indikasi masalah ditemukan pada sebagian ayam. Dari pemeriksaan di dapur, terdapat dua baskom bahan makanan yang dianggap bermasalah. Namun, pihaknya belum memastikan secara pasti berapa persen bahan yang mengalami kerusakan.
“Baru perkiraan kami. Memang saya cek ada dua baskom yang bermasalah. Itu tidak semuanya rusak, tapi saya takut ada apa-apa,” katanya.
Ia menegaskan, makanan yang berasal dari batch kedua tersebut tidak didistribusikan kepada penerima manfaat. Seluruh makanan yang dianggap berisiko kemudian dimusnahkan sebagai bagian dari langkah pengamanan pangan.
Abra juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat mencicipi makanan yang terindikasi bermasalah tersebut saat melakukan pengecekan. Setelah itu, ia mengaku mengalami muntah, meski tidak mengalami diare.
Langkah penarikan dilakukan setelah pihak SPPG menerima laporan dari staf dan ahli gizi. Abra mengatakan, begitu indikasi persoalan ditemukan, dirinya langsung memerintahkan petugas untuk menghentikan distribusi dan menghubungi seluruh penanggung jawab di lapangan maupun pengemudi kendaraan distribusi.
“Daripada ada apa-apa, makanan untuk batch kedua tidak didistribusikan. Kita sudah deteksi sejak dari SPPG,” tegasnya.
Terkait sumber bahan baku, Abra menyebut ayam tersebut diperoleh dari pemasok atau pelaku usaha lokal di sekitar wilayah Karanganyar. Namun, pihaknya masih melakukan evaluasi untuk mengetahui penyebab munculnya perubahan rasa dan aroma pada sebagian ayam setelah proses pemasakan.
Ia memastikan kejadian tersebut merupakan kasus pertama yang terjadi di dapur SPPG milik yayasan Insan Berlian Sejahtera tersebut.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, SPPG Jati akan memperketat proses pemeriksaan bahan baku, terutama pada tahap pemilihan dan penerimaan dari pemasok. Selain itu, pengawasan internal dan briefing petugas akan diperkuat sebelum proses memasak maupun setelah pemorsian makanan.
“Kita yang jelas akan memperketat lagi yang namanya pemilihan dari supplier,” ujarnya.
Abra memastikan kejadian tersebut tidak menghentikan operasional SPPG secara keseluruhan. Pihaknya berencana kembali memasak dan mendistribusikan MBG seperti biasa pada Kamis (13/8/2026), tanpa menambah jumlah porsi sebagai kompensasi atas makanan yang ditarik pada hari sebelumnya.
Pihak SPPG juga telah melaporkan kejadian tersebut secara berjenjang kepada pihak terkait untuk dilakukan penanganan dan evaluasi.
Sementara bagi sekolah penerima, pembatalan distribusi MBG pada Rabu membuat siswa harus kembali mengikuti kegiatan belajar tanpa mendapatkan makanan yang biasanya mereka terima melalui program tersebut. Hingga Rabu siang, sekolah masih menunggu kepastian mengenai distribusi MBG pada hari berikutnya. (Hds/K2)












