Kabar Karanganyar, – Eco Culture Night Carnival Karanganyar sukses menyedot perhatian ratusan ribu penonton yang memadati sepanjang Jalan Lawu, Selasa (18/8/2026) malam. Perpaduan budaya, pesan pelestarian lingkungan, permainan cahaya, serta konsep artistik membuat karnaval malam tersebut berubah menjadi panggung spektakuler yang menghipnotis masyarakat.
Sejak sore, warga mulai berdatangan dan memenuhi sejumlah ruas di sepanjang Jalan Lawu. Memasuki malam hari, kepadatan penonton semakin terlihat ketika iring-iringan peserta karnaval mulai bergerak.
Mengusung tema Eco Culture: Merawat Alam, Melestarikan Budaya, kegiatan yang digelar Pemerintah Kabupaten Karanganyar melalui Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga itu tidak sekadar menjadi hiburan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI. Karnaval juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya sekaligus menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Salah satu perhatian utama tertuju pada penampilan Bupati Karanganyar Rober Christanto bersama istrinya serta jajaran Forkopimda yang tampil mengenakan kostum raja-raja Nusantara.
Kostum tersebut bukan sekadar ornamen. Penampilan para pemimpin daerah dengan busana kerajaan Nusantara menjadi simbol untuk mengenalkan kembali kebesaran, kewibawaan, serta kekayaan sejarah dan budaya leluhur bangsa Indonesia.
Rober Christanto mengenakan kostum Raja Kutai Mulawarman. Pilihan tersebut, menurut Rober, merupakan gagasan dari sang istri sekaligus bagian dari upaya mengenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada masyarakat.
Dari atas panggung maupun sepanjang jalur karnaval, kemegahan kostum berpadu dengan tata cahaya dari para vendor pendukung. Permainan lampu, musik, dekorasi kendaraan, koreografi peserta, serta berbagai atraksi membuat suasana Jalan Lawu seolah berubah menjadi panggung pertunjukan terbuka.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karanganyar, Yopi Jati Wibowo, mengatakan Eco Culture Night Carnival diikuti 41 perwakilan yang berasal dari instansi pemerintah, BUMD, organisasi masyarakat hingga pihak swasta.
Setiap peserta tidak hanya dituntut menampilkan atraksi, tetapi juga membawa identitas dan tugas pokok fungsi masing-masing. Konsep tersebut membuat setiap penampilan memiliki karakter tersendiri.
“Yang kita kedepankan kualitas tampilan, bukan sekadar kuantitas peserta. Masing-masing membawa seni budaya, pesan lingkungan dan tugas pokok fungsinya,” ujarnya.
Pemilihan waktu penyelenggaraan pada malam hari juga menjadi bagian dari konsep acara. Selain menghindari teriknya cuaca, suasana malam memberikan ruang lebih besar bagi permainan cahaya dan tata artistik sehingga visual karnaval terlihat semakin spektakuler.
Rober mengatakan semangat yang dibawa dalam kegiatan tersebut sejalan dengan spirit “Sesarengan Bangun Karanganyar”. Semangat itu menggambarkan kebersamaan seluruh elemen masyarakat dalam membangun daerah tanpa membedakan latar belakang maupun asal daerah.
Menurutnya, kemeriahan karnaval juga tidak semata-mata lahir dari dukungan pemerintah. Sejumlah pengusaha dan pelaku usaha lokal ikut memberikan dukungan secara swadaya, mulai dari penyediaan sound system hingga berbagai kebutuhan artistik acara.
“Kita ingin masyarakat terhibur, kemerdekaan bisa diisi dengan kegiatan positif, sekaligus menunjukkan potensi yang dimiliki Karanganyar,” kata Rober.
Dampak ekonomi juga ikut terasa. Membludaknya penonton memberikan ruang bagi pelaku UMKM dan pedagang kecil untuk meningkatkan omzet. Sepanjang kawasan acara, berbagai lapak kuliner dan produk UMKM turut meramaikan suasana.
Melihat antusiasme masyarakat dan peserta yang terus meningkat, Pemkab Karanganyar membuka peluang menjadikan Eco Culture Night Carnival sebagai salah satu kalender event tahunan.
Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi agenda hiburan masyarakat lokal, tetapi berkembang menjadi daya tarik wisata yang mampu mendatangkan wisatawan dari luar daerah.
Puncak acara dijadwalkan ditutup dengan pesta kembang api. Setelah seluruh rangkaian selesai, tim sapu bersih disiapkan untuk memastikan kawasan Jalan Lawu kembali bersih dan aktivitas masyarakat dapat berjalan normal.
Dengan perpaduan budaya, teknologi pencahayaan, kreativitas peserta dan dukungan masyarakat, Eco Culture Night Carnival tahun ini menjadi salah satu pertunjukan yang berhasil mengubah Jalan Lawu menjadi panggung budaya dan hiburan kolosal di jantung Kabupaten Karanganyar. (Hds/K2)












