BUDAYA  

Pura Mangkunegaran Buka Ruang untuk Semua, Toleransi Jadi Napas HUT ke-60 Kevikepan Surakarta

WA 1791439473885
Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko pimpin misa syukur di Pure Mangkunegaran.

SURAKARTA, Kabar Karanganyar, – Pura Mangkunegaran kembali menunjukkan perannya sebagai ruang kebudayaan yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat. Nilai toleransi, kerukunan dan persaudaraan antar-elemen bangsa menjadi semangat yang mengiringi perayaan HUT ke-60 Kevikepan Surakarta di kompleks Pura Mangkunegaran, Rabu (7/10/2026).

Perayaan tersebut mempertemukan kehidupan keagamaan, kebudayaan dan masyarakat dalam satu ruang. Rangkaian kegiatan diawali dengan Misa Syukur di Pendhapa Ageng yang dipimpin Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, kemudian dilanjutkan konser teatrikal “Kawula Satuhu” di Pamedan.

Sebagai tuan rumah, Mangkunegaran memberikan ruang bagi keluarga besar umat Katolik untuk menjalankan perayaan keagamaan sekaligus membangun kebersamaan dengan masyarakat. Kekhidmatan ibadah tetap dijaga dengan menghormati tata krama serta tradisi yang berlaku di lingkungan Mangkunegaran.

K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X atau Gusti Bhre mengatakan, keterbukaan Mangkunegaran terhadap berbagai kelompok masyarakat merupakan bagian dari perannya sebagai institusi kebudayaan.

“Merawat kebudayaan juga berarti merawat persaudaraan dalam keberagaman. Kami menyambut keluarga besar Kevikepan Surakarta dengan hangat dan ingin agar masyarakat dari beragam latar belakang merasa diterima serta dihargai di Mangkunegaran,” ujar Gusti Bhre.

Menurutnya, kerukunan tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus diwujudkan melalui ruang perjumpaan antarmasyarakat.

“Kerukunan tumbuh ketika kita memberi ruang bagi sesama, menghormati keyakinannya, dan menjaga hubungan baik dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

HUT ke-60 Kevikepan Surakarta mengusung tema “Nyawiji, Mawutuh, Andum Berkah”. Tema tersebut membawa pesan tentang persatuan, saling melengkapi dan berbagi berkat bagi sesama.

Vikaris Episkopal Kevikepan Surakarta, Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr., mengatakan perayaan enam dekade Kevikepan Surakarta diharapkan tidak hanya menjadi momentum internal umat Katolik, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Bersama masyarakat Surakarta, Gereja menghadirkan berkat bagi siapa saja,” ungkapnya.

Kevikepan Surakarta berdiri pada 7 Oktober 1966 sebagai wilayah pelayanan Gereja Katolik di bawah Keuskupan Agung Semarang. Wilayah pelayanannya meliputi Kota Surakarta serta Kabupaten Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar dan Sragen.

Memasuki usia enam dekade, Kevikepan Surakarta membawa semangat untuk terus mendekatkan pelayanan dengan kehidupan masyarakat. Perjumpaan dengan budaya lokal juga menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.

Kehadiran seni dan budaya dalam rangkaian perayaan menjadi ruang bagi umat untuk mengekspresikan sukacita sekaligus memperlihatkan bahwa perbedaan latar belakang tidak menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan.

Di Pura Mangkunegaran, perayaan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa institusi kebudayaan dapat menjadi ruang bersama. Ruang yang tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam suasana saling menghormati.

Mangkunegaran menegaskan keterbukaan tersebut sebagai bagian dari kontribusinya dalam menjaga kehidupan masyarakat Solo yang rukun. Perbedaan keyakinan, latar belakang maupun komunitas ditempatkan sebagai bagian dari kekayaan kehidupan bersama.

Dari ruang budaya itulah pesan sederhana kembali ditegaskan: merawat kebudayaan bukan hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga merawat persaudaraan dan kerukunan masyarakat hari ini. (Hds/K2)