Peringatan Hari Pramuka ke-65, Kwarnas Ziarah ke Makam Soeharto di Giribangun

IMG 20260806 180248
Ka Kwarnas Gerakan Pramuka Kak Budhi Waseso laksanakan ziarah makam tokoh Pramuka dalam peringatan Hari Pramuka ke 65 tahun 2026.

Kabar Karanganyar, – Peringatan Hari Pramuka ke-65 tidak sekadar diisi dengan kegiatan seremonial. Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka memilih kembali menengok sejarah dengan melakukan ziarah ke makam sejumlah tokoh yang dinilai memiliki jasa besar dalam membangun dan membesarkan Gerakan Pramuka di Indonesia.

Salah satu rangkaian ziarah tersebut dilakukan di makam Presiden kedua RI Soeharto di Astana Giribangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Rabu (5/8/2026).

Kegiatan ziarah tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pramuka ke-65 sekaligus menyambut pelaksanaan Jambore Nasional (Jamnas) XII Tahun 2026 yang akan digelar di Bumi Perkemahan Cibubur mulai 13 Agustus 2026.

Ketua Kwartir Nasional Budhi Waseso mengatakan, ziarah dilakukan sebagai bentuk penghormatan sekaligus rasa syukur kepada para pendahulu yang telah meletakkan dasar penting bagi perkembangan Gerakan Pramuka hingga saat ini.

Selain Presiden Soeharto di Giribangun, rangkaian ziarah juga menyasar makam Presiden Soekarno di Blitar serta Sri Sultan Hamengkubuwono IX di Imogiri. Ketiga tokoh tersebut memiliki peran penting dalam perjalanan panjang Gerakan kepanduan ini di Indonesia.

Presiden Soekarno dikenang sebagai tokoh yang mencetuskan Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 yang menjadi tonggak lahirnya Gerakan Pramuka. Sementara Sri Sultan Hamengkubuwono IX dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia yang turut memperkenalkan konsep pengabdian kepada masyarakat serta keterampilan hidup dalam gerakan kepanduan.

Sementara Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto dikenang atas jasa mereka dalam membesarkan Gerakan Pramuka, termasuk dukungan terhadap penyediaan fasilitas yang menjadi bagian penting dalam perkembangan kegiatan kepramukaan nasional.

“Ziarah ini merupakan bentuk penghormatan kita kepada para pendahulu. Kita ingin mengingat jasa, pemikiran dan pengorbanan mereka, sehingga generasi sekarang tidak melupakan sejarah,” ujar Budhi Waseso saat berada di kompleks Astana Giribangun, Matesih, Karanganyar, Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, perjalanan Gerakan Pramuka tidak dapat dilepaskan dari kontribusi para tokoh yang telah memberikan pemikiran, tenaga hingga fasilitas untuk membangun gerakan kepanduan di Indonesia.

Karena itu, ziarah tidak dimaknai sekadar sebagai kegiatan mengenang tokoh yang telah wafat. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi pengingat bagi generasi bangsa saat ini agar mampu mengambil nilai-nilai positif dari perjuangan para pendahulu.

“Yang baik kita teruskan, kita kembangkan dan kita sempurnakan. Sedangkan hal-hal yang kurang baik jangan kita ulangi,” tegasnya.

Budhi menilai pesan tersebut penting bagi generasi muda di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Gerakan Pramuka diharapkan tidak berhenti pada kegiatan kepanduan, tetapi mampu menjadi ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, kepedulian sosial dan kecintaan terhadap tanah air.

Momentum ziarah tersebut sekaligus menjadi pengantar menuju Jamnas XII yang akan mempertemukan ribuan Pramuka Garuda dari berbagai daerah di Indonesia. Lebih dari 19.600 Pramuka Garuda diperkirakan ambil bagian dalam kegiatan nasional yang akan berlangsung di Cibubur mulai 13 Agustus 2026.

Jamnas XII diharapkan menjadi ruang pertemuan dan pembelajaran bagi generasi muda Pramuka dari seluruh Indonesia. Mereka tidak hanya dituntut memiliki kemampuan dan prestasi, tetapi juga integritas serta kesiapan menjadi bagian dari kepemimpinan bangsa di masa depan.

Tradisi ziarah sendiri dilakukan secara nasional di berbagai jajaran Kwartir Daerah (Kwarda), termasuk Jawa Tengah. Kegiatan tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada para tokoh yang pernah mengabdikan diri sebagai Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) maupun pimpinan Kwarda.

Ketua Kwartir Daerah Jawa Tengah Budhi Prasetya mengatakan, tradisi tersebut penting untuk menjaga kesinambungan sejarah Gerakan Pramuka. Generasi muda perlu mengetahui bahwa keberadaan Pramuka hari ini merupakan hasil dari perjuangan panjang para pendahulu.

Ziarah menjadi momentum untuk menanamkan kesadaran bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab meneruskan nilai-nilai baik yang telah diwariskan. Dengan demikian, Gerakan kepanduan ini tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.

Melalui rangkaian ziarah tersebut, peringatan Hari Pramuka ke-65 diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi momentum memperkuat kembali peran Gerakan Pramuka dalam mencetak generasi muda yang unggul, berkarakter, berintegritas dan memiliki kecintaan kuat terhadap Indonesia. (Hds/K2)