DAERAH  

Janggitan, Jin Pelindung Sawah Tawangmangu Hadir dalam Malam Tirakatan HUT RI ke-81 di DPRD Karanganyar

IMG 20260816 232823
Sanggar Tari Sekar Kencana Tawangmangu sajikan tari " Janggitan " Di malam tirakatan HUT Kemerdekaan RI ke - 81 di ruang paripurna DPRD Karanganyar.

Kabar Karanganyar, – Janggitan, sosok gaib dalam mitos masyarakat agraris Tawangmangu yang dipercaya sebagai pelindung persawahan, hadir dalam suasana malam tirakatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Gedung DPRD Karanganyar, Minggu (16/8/2026).

Namun, kehadiran Janggitan bukan dalam wujud ritual sebagaimana cerita yang berkembang di tengah masyarakat. Sosok tersebut dihidupkan kembali melalui koreografi tari bertajuk Tari Jangitan, sebuah karya seni pertunjukan yang memadukan kekuatan tari tradisional dengan sentuhan gerak dan musik modern.

Pertunjukan tersebut semakin menarik karena dikolaborasikan dengan solo vokal yang dibawakan oleh salah satu juara Karanganyar Mencari Bakat (KCB) 2026,Kinaryosih Cahyaning Anganti. Kedua penampil merupakan bagian dari talenta terbaik yang lahir dari ajang pencarian bakat yang diselenggarakan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Karanganyar.

Sutradara, pengarah gerak sekaligus blocking vokal, Rindu Puspitaloka Nantasari, dari sanggar seni Pelangi Ngesti Budaya, mengatakan pertunjukan tersebut sengaja dirancang untuk membawa kembali cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat Tawangmangu ke dalam bentuk seni pertunjukan yang lebih modern dan mudah diterima generasi saat ini.

Menurutnya, Janggitan dalam kepercayaan masyarakat setempat digambarkan sebagai sosok gaib menyerupai buto atau genderuwo. Meski memiliki bentuk yang menyeramkan, Janggitan justru dipercaya sebagai sosok baik yang berperan menjaga sawah dan tanaman pertanian.

“Janggitan ini dipercaya masyarakat sebagai pelindung sawah. Dia menjaga dari kegagalan panen, banjir maupun kerusakan lahan,” ujar Rindu.
Kepercayaan tersebut memiliki karakter yang berbeda dengan sosok Dewi Sri yang selama ini lebih dikenal sebagai simbol kesuburan dalam tradisi agraris Jawa. Janggitan justru ditempatkan sebagai figur penjaga yang memastikan lahan pertanian tetap aman dan tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa tubuh melalui koreografi yang menggambarkan hubungan antara petani, alam dan sosok pelindung yang dipercaya berada di balik kehidupan persawahan.

Koreografer Tari Jangitan, Muhammad Hendrawan, S.Sn., menjelaskan karya tersebut merupakan tari baru yang berangkat dari mitologi lokal Tawangmangu. Unsur tradisi tetap dipertahankan, tetapi dikemas dengan eksplorasi gerak dan musik yang lebih modern.

Dalam pertunjukan itu, Janggitan ditempatkan sebagai tokoh protagonis. Koreografi tidak menghadirkan sosok antagonis, melainkan menonjolkan figur pelindung yang membantu menjaga sekaligus menyembuhkan tanaman ketika mengalami gangguan.

“Jangitan ini kami ambil dari cerita masyarakat Tawangmangu tentang sosok raksasa atau buto yang dipercaya melindungi persawahan dari bahaya, baik yang nyata maupun yang bersifat gaib,” jelas Hendrawan.

Alur pertunjukan juga menggambarkan bentuk rasa syukur masyarakat agraris kepada sosok pelindung tersebut. Visualisasi ritual pembawaan sesajen dan dupa menjadi bagian dari bahasa artistik yang digunakan untuk menggambarkan hubungan antara manusia dengan alam dan kepercayaan yang berkembang di masyarakat.

Meski ritual khusus Janggitan kini sudah tidak lagi dilakukan secara fisik, cerita mengenai sosok tersebut masih bertahan sebagai bagian dari folklor masyarakat Tawangmangu. Nilai rasa syukur petani terhadap alam pun disebut masih hidup dalam bentuk tradisi lain, salah satunya kenduri di sawah.

Pementasan di malam tirakatan HUT ke-81 RI tersebut akhirnya tidak sekadar menjadi hiburan. Tari Jangitan menjadi upaya untuk mengangkat kembali cerita rakyat lokal agar tidak berhenti sebagai kisah yang dituturkan dari generasi ke generasi, tetapi dapat hadir dalam bentuk karya seni yang relevan dengan perkembangan zaman.

Kolaborasi dengan solo vokal juara KCB 2026 juga memberikan warna berbeda. Seni tari, musik, vokal dan kekuatan cerita rakyat dipertemukan dalam satu panggung, sekaligus menjadi ruang bagi talenta muda Karanganyar untuk menunjukkan kreativitas mereka.

Melalui pertunjukan tersebut, mitos Janggitan tidak hanya ditampilkan sebagai cerita tentang sosok gaib penjaga sawah. Lebih jauh, ia diterjemahkan sebagai simbol hubungan masyarakat dengan tanah, alam, rasa syukur dan harapan agar kehidupan pertanian tetap terjaga.

Pertunjukan kemudian ditutup dengan lagu bertema cinta tanah air, membawa kisah lokal Tawangmangu menuju pesan yang lebih luas tentang rasa syukur, kecintaan terhadap budaya dan semangat menjaga Indonesia. (Hds/K2)