Kabar Karanganyar, – Ada banyak cara merayakan ulang tahun seorang anak. Namun, bagi Rahmat Effendi, ulang tahun ke-12 putranya, M Indra Prabu, bukan sekadar tentang kue, hadiah ataupun pesta. Ultah kali ini mungkin akan berbeda dirasakan oleh Indra pasalnya sang ayah ajak Indra kolaborasi dengan gerakan #jagalawu.
Pada 22 September 2026, Direktur PT. Tiga Lalung Kahuripan Group sekaligus Ketua Kamar Entrepreneur Indonesia (KEIND) Kabupaten Karanganyar itu memilih mengajak sang buah hati merayakan pertambahan usia dengan cara yang sarat makna: berbagi dan menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.
Fendi mengajak Indra Prabu memberikan jersey lari kepada teman-teman gerakan #JagaLawu yang tengah mempersiapkan aksi lari estafet sejauh 150 kilometer dari kawasan Gunung Lawu menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah.
Aksi tersebut menjadi bagian dari gerakan masyarakat yang menyuarakan penolakan terhadap rencana proyek geothermal di kawasan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.
Bagi Fendi, jersey yang dibagikan bukan sekadar perlengkapan olahraga. Ada pesan tentang kebersamaan, gotong royong dan kepedulian yang ingin diwariskan kepada putranya.
“Momentum 22 September 2026 bertepatan dengan 12th anak saya, M Indra Prabu, bagi saya penting untuk menanamkan filsafat ” Memayu hayuning bawono ” Kepada anak saya,” kata Fendi.
Di balik perayaan sederhana tersebut, Fendi ingin memperkenalkan kepada anaknya sebuah filosofi Jawa yang telah diwariskan leluhur: memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara.
Filosofi itu dimaknai sebagai ajaran agar manusia memiliki kewajiban menjaga, memperindah serta mengusahakan keselamatan dan kesejahteraan dunia, sekaligus menjauhkan diri dari sifat angkara murka, keserakahan dan ketamakan.
Nilai itulah yang menurut Fendi penting ditanamkan kepada generasi muda sejak dini.
Bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata.
Dengan berbagi jersey kepada para pelari #JagaLawu, Indra diajak melihat bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak mengenal usia. Anak-anak pun dapat belajar bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab bersama.
Terlebih Gunung Lawu bukan hanya sebuah bentang alam. Bagi masyarakat di sekitarnya, Lawu menjadi bagian dari kehidupan, sumber air, ruang hidup, sekaligus warisan yang akan diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Kita harus melestarikan Gunung Lawu bukan untuk kita sendiri, namun juga untuk anak cucu kita kelak,” ujar Fendi.
Pesan tersebut menjadi semakin personal karena disampaikan bertepatan dengan hari ulang tahun sang anak.
Fendi seolah ingin menjadikan usia ke-12 Indra bukan hanya sebagai penanda bertambahnya umur, tetapi juga sebagai momentum untuk mengenalkan arti berbagi, gotong royong dan menghormati alam.
Ia menyebut konsep itu sebagai Kahuripan.
Alam menghidupi penghuninya, sementara penghuni memiliki kewajiban menjaga alam.
“Alam menghidupi penghuninya, penghuninya menjaga alam,” ungkapnya.
Bagi Fendi, hubungan manusia dengan alam seharusnya bukan hubungan mengambil dan mengeksploitasi semata. Ada keseimbangan yang harus dijaga agar kehidupan dapat terus berlangsung dan dinikmati generasi mendatang.
Semangat tersebut kemudian ia kaitkan dengan cita-cita membangun Karanganyar sebagai Bumi Intan Pari yang tentram, lestari dan mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.
“Warga bersinergi dengan alam semesta,” katanya.
Perayaan ulang tahun M Indra Prabu akhirnya menjadi sebuah pesan kecil dari keluarga Rahmat Effendi: bahwa pendidikan tentang lingkungan bisa dimulai dari keluarga, dari hal sederhana, bahkan dari sebuah jersey yang diberikan dengan ketulusan.
Sebab bagi Rahmat, warisan terbaik untuk seorang anak bukan hanya materi, tetapi juga nilai kehidupan.
Nilai untuk berbagi.
Nilai untuk bergotong royong.
Dan nilai untuk menjaga bumi yang menjadi tempat manusia hidup dan saling menghidupi.
Memayu hayuning bawana.
Menjaga keindahan dan keselamatan bumi, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk anak cucu di masa depan. (Hds/K2)












