Kabar Karanganyar, – Pemerintah Kabupaten Karanganyar bersama Polres Karanganyar, Perum Perhutani, TNI, BPBD, Damkar, serta berbagai pemangku kepentingan menggelar Apel Siaga Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Lapangan Landing Kemuning, Senin. Apel tersebut menjadi bentuk komitmen bersama untuk meminimalkan risiko kebakaran hutan di kawasan lereng Gunung Lawu yang berada di wilayah Kabupaten Karanganyar, terutama memasuki puncak musim kemarau lola.
Bupati Karanganyar Rober Christanto mengatakan kondisi cuaca saat ini harus menjadi perhatian seluruh pihak. Berdasarkan informasi BMKG, Karanganyar telah memasuki puncak musim kemarau yang ditandai fenomena bediding, yakni udara sangat kering, suhu dingin pada malam hari, serta panas terik disertai angin kencang pada siang hari. Kondisi tersebut meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
“Apel siaga ini merupakan komitmen nyata kita untuk mewujudkan Kabupaten Karanganyar bebas dari kebakaran hutan dan lahan. Pencegahan harus menjadi prioritas karena dampaknya sangat besar bagi lingkungan maupun masyarakat,” ujar Rober. Senin (3/08/2026).
Ia mengungkapkan Kabupaten Karanganyar memiliki kawasan hutan negara seluas 7.336,96 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 98 persen atau 7.196 hektare merupakan hutan lindung yang memiliki fungsi penting sebagai penyangga ekosistem, sumber mata air, serta kawasan konservasi di lereng Gunung Lawu.
Rober menegaskan seluruh unsur pemerintah, aparat keamanan, relawan hingga masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan, terutama pada jam-jam rawan kebakaran yang berdasarkan data terjadi antara pukul 09.00 hingga 18.00 WIB.
Dalam amanat apel juga ditekankan bahwa kawasan lereng Gunung Lawu yang meliputi Kecamatan Ngargoyoso, Tawangmangu, Jenawi, dan Karangpandan memiliki tingkat kerawanan tinggi. Selain medan yang terjal dan akses yang sulit dijangkau, kawasan tersebut juga ramai aktivitas pendakian, wisata alam, hingga pembukaan lahan yang berpotensi memicu kebakaran apabila dilakukan dengan cara membakar.
Karena itu, seluruh instansi diminta memperkuat koordinasi dan memastikan jaringan komunikasi antarposko berjalan lancar. Patroli gabungan akan ditingkatkan pada jam rawan, khususnya di jalur pendakian, kawasan wisata, dan titik-titik yang berpotensi terjadi kebakaran. Babinsa dan Bhabinkamtibmas juga diminta aktif memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan serta mengingatkan adanya ancaman pidana bagi pelaku pembakaran.
Kapolres Karanganyar AKBP Arman Sahti menegaskan hingga saat ini belum terdapat laporan kebakaran hutan di wilayah Karanganyar. Meski demikian, seluruh jajaran telah diperintahkan meningkatkan langkah-langkah pencegahan mengingat Agustus hingga September merupakan periode paling rawan terjadinya Karhutla.
“Kami mengimbau masyarakat, termasuk para pendaki, agar tidak melakukan pembakaran lahan ataupun tindakan yang dapat memicu kebakaran hutan. Babinkamtibmas, Babinsa, pemerintah kecamatan hingga petugas kehutanan terus melakukan patroli dan sosialisasi. Apabila ada yang dengan sengaja membakar hutan, tentu akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” tegas Arman.
Sementara itu, Administratur KKPH Perhutani KPH Surakarta Agus Supriyanto Ganasari menjelaskan koordinasi lintas sektor terus diperkuat untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kebakaran di kawasan Gunung Lawu. Selain menyiapkan armada pemadam dan peralatan pendukung, patroli rutin juga dilaksanakan pada jam rawan, yakni pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.
Menurut Agus, upaya pencegahan juga dilakukan melalui pendekatan kepada masyarakat sekitar kawasan hutan. Edukasi terus diberikan agar masyarakat ikut menjaga kelestarian ekosistem Gunung Lawu yang masih menjadi salah satu kawasan hutan paling terjaga di Pulau Jawa.
Ia juga mengungkapkan terdapat wacana pembangunan embung di kawasan atas Gunung Lawu untuk mempermudah akses air ketika terjadi kebakaran. Namun hingga kini usulan resmi dari Pemerintah Kabupaten Karanganyar kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan masih belum diajukan.
“Yang menggembirakan, aktivitas perajin arang yang selama ini berpotensi memicu kebakaran sudah menurun cukup signifikan berkat kerja sama antara Perhutani, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan pemerintah desa. Kami berharap dengan kesiapsiagaan seluruh stakeholder, kebakaran hutan yang kerap terjadi saat musim kemarau dapat dicegah sehingga kelestarian kawasan Gunung Lawu tetap terjaga,” pungkas Agus. (Hds/K2)












