Kabar Karanganyar, – Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol. Roy Hardi Siahaan, S.H., S.I.K., M.H. turun langsung mengoordinasikan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Lawu. Menghadapi api yang sulit dijangkau, aparat bersama relawan mulai melokalisasi titik kebakaran, sementara penetapan status tanggap darurat, bantuan helikopter untuk water bombing, hingga rekayasa cuaca mulai disiapkan bersama lintas pemangku kepentingan.
Langkah tersebut disampaikan Kapolda saat mengunjungi Posko Bersama Penanganan Karhutla di Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Sabtu (17/10/2026). Penanganan diperkuat melalui koordinasi TNI-Polri, relawan, pemerintah daerah, BNPB, dan BMKG untuk mencegah api meluas di kawasan Gunung Lawu.
Kapolda mengungkapkan, personel gabungan yang terdiri atas relawan, unsur kepolisian, dan pihak terkait telah membentuk satuan tugas kecil untuk mempercepat penanganan di lapangan. Upaya pemadaman dilakukan dengan peralatan konvensional karena medan menuju titik api sulit dijangkau menggunakan peralatan yang tersedia.
“Sekarang kita menggunakan alat apa adanya untuk melakukan pelokalisasian dengan alat-alat tradisional dan konvensional,” ujarnya.
Selain pemadaman langsung, petugas berupaya membuat sekat bakar dan melokalisasi titik api agar kebakaran tidak semakin meluas. Langkah ini dinilai mendesak mengingat kondisi kemarau panjang dan angin kencang berpotensi mempercepat penjalaran api.
Kapolda mengingatkan, kebakaran di lereng Lawu berpotensi berkembang menjadi bencana yang lebih luas apabila tidak segera dikendalikan. Pengalaman kebakaran pada 2023 menjadi salah satu perhatian aparat, terutama karena arah dan kekuatan angin sulit diprediksi.
“Kita khawatir ini terjadi seperti tahun 2023. Angin ini tidak bisa kita prediksi, sehingga kita berupaya maksimal supaya statusnya segera ditetapkan,” katanya.
Untuk memperkuat pemadaman, Kapolda menyebut pihaknya telah berkomunikasi dengan Mabes Polri guna mengupayakan dukungan helikopter dari Semarang. Helikopter tersebut diharapkan dapat membantu operasi pemadaman melalui teknik water bombing, yakni menjatuhkan air dari udara ke titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau petugas darat.
Namun, pengerahan helikopter masih berupa upaya yang dikoordinasikan dan belum dipastikan terealisasi. Dukungan udara dinilai penting mengingat keterbatasan sarana pemadaman serta beratnya medan di kawasan lereng Gunung Lawu.
Status Tanggap Darurat dan Rekayasa Cuaca Dikaji
Di luar upaya teknis pemadaman, penanganan karhutla juga diarahkan pada penguatan kebijakan lintas sektor. Kapolda menyatakan telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BNPB pusat, dan BMKG untuk membahas langkah penanganan yang lebih luas.
Penetapan status bencana di tingkat daerah sedang diproses oleh Pemerintah Kabupaten Karanganyar. Status tersebut diharapkan dapat mempermudah koordinasi antarlembaga sekaligus membuka ruang dukungan penanganan dari BNPB.
Kapolda menjelaskan, setelah status bencana ditetapkan, langkah penanggulangan berikutnya dapat dikoordinasikan lebih terstruktur, termasuk kemungkinan keterlibatan BNPB dalam penanganan di lapangan.
Salah satu opsi yang turut dibahas adalah rekayasa cuaca untuk membantu mengatasi dampak kemarau panjang. Kapolda mengaku telah berkomunikasi secara lisan dengan BMKG di Semarang guna meminta kajian mengenai kemungkinan penerapannya.
Meski demikian, rekayasa cuaca belum menjadi keputusan final. Pelaksanaannya masih bergantung pada hasil penilaian teknis BMKG, termasuk kondisi atmosfer dan kelayakan operasi.
Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki
Kapolda juga mengingatkan masyarakat agar ikut menjaga kawasan hutan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Meski dugaan awal mengarah pada faktor kelalaian manusia, kepolisian belum menyimpulkan penyebab pasti kebakaran.
“Kemungkinan besar ini terjadi karena human error. Tapi kita tidak bisa mengatakan itu karena kita belum melakukan olah tempat kejadian perkara,” tegasnya.
Penyelidikan penyebab kebakaran akan dilakukan setelah pemeriksaan di lokasi. Sementara itu, prioritas utama aparat gabungan adalah mengendalikan api, mencegah penjalaran ke kawasan lain, dan memastikan penanganan berlangsung terpadu.
Dengan kondisi medan yang sulit, angin kencang, serta keterbatasan sarana pemadaman, koordinasi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci penanganan karhutla di Gunung Lawu. Penetapan status darurat, dukungan helikopter, dan kemungkinan rekayasa cuaca kini menjadi opsi yang terus dikoordinasikan untuk memperkuat upaya pemadaman. (Hds/K2)












