Kabar Karanganyar,– Peringatan Hari Tani Nasional ke-66 menjadi momentum bagi Tani Merdeka untuk menggaungkan perubahan paradigma di sektor pertanian. Di tengah pesimisme masyarakat terhadap penghasilan dan masa depan usaha tani, petani didorong tidak lagi sekadar menjadi buruh penggarap lahan, melainkan naik kelas menjadi pengusaha pertanian yang modern, mandiri, dan mampu membaca peluang pasar.
Ketua DPW Tani Merdeka Jawa Tengah, Wawan Pramono, menegaskan peringatan Hari Tani tidak seharusnya berhenti pada seremoni tahunan. Lebih dari itu, momentum tersebut harus menjadi ruang refleksi untuk mengevaluasi pengelolaan lahan pertanian sekaligus mempersiapkan regenerasi petani dalam 10 hingga 30 tahun mendatang.
Menurut Wawan, tantangan pertanian saat ini bukan hanya persoalan produksi dan ketersediaan sarana pertanian, tetapi juga menyangkut perubahan cara pandang masyarakat terhadap profesi petani. Selama ini, pekerjaan di sektor pertanian masih kerap dipandang sebelah mata karena dianggap tidak menjanjikan penghasilan maupun masa depan yang layak.
Padahal, apabila dikelola dengan pendekatan bisnis, modernisasi teknologi, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar, sektor pertanian memiliki potensi ekonomi yang besar.
“Jangan sampai anak-anak muda kita tidak mau menjadi petani karena menganggap pertanian tidak menjanjikan. Paradigmanya harus kita ubah. Petani bukan hanya bekerja mengolah tanah, tetapi harus bisa menjadi pengusaha pertanian,” tegas Wawan, Kamis (24/09/2026).
Ia menilai, salah satu pekerjaan rumah terbesar sektor pertanian adalah mempersiapkan generasi penerus yang mampu mengelola lahan secara produktif sekaligus mengembangkan pertanian sebagai usaha yang menguntungkan.
Regenerasi petani menjadi persoalan mendesak. Tanpa keterlibatan generasi muda, keberlanjutan pengelolaan lahan pertanian berpotensi menghadapi tantangan serius dalam beberapa dekade ke depan.
Karena itu, Tani Merdeka mendorong pembangunan ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir. Petani tidak boleh hanya ditempatkan sebagai produsen bahan mentah, tetapi juga harus memiliki akses terhadap permodalan, teknologi, pendampingan, pengolahan hasil, hingga jaringan pemasaran.
Wawan berpandangan, anak muda akan lebih tertarik masuk ke sektor pertanian apabila melihat adanya peluang keuntungan dan jenjang usaha yang jelas. Pertanian harus diperkenalkan sebagai bidang usaha yang bisa dikembangkan dengan inovasi, manajemen modern, dan strategi pemasaran yang tepat.
“Anak muda harus kita dorong agar berani masuk ke pertanian. Mereka harus dibekali ilmu, modal, dan bimbingan teknis, mulai dari proses produksi sampai bagaimana memasarkan hasilnya. Jangan sampai petani hanya bisa menanam, tetapi tidak tahu menjual dengan harga yang menguntungkan,” ujarnya.
Salah satu peluang yang perlu dikembangkan, lanjut Wawan, adalah pasar ekspor, terutama untuk komoditas rempah-rempah. Menurutnya, potensi komoditas pertanian Indonesia perlu dimanfaatkan dengan memperkuat kualitas produksi, kesinambungan pasokan, serta kemampuan petani memenuhi kebutuhan pasar.
Melalui orientasi bisnis dan pasar yang lebih luas, generasi muda diharapkan tidak lagi memandang pertanian sebagai pekerjaan alternatif, melainkan sebagai bidang usaha yang mampu memberikan penghasilan sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
Ia juga menekankan pentingnya menghapus stigma bahwa menjadi petani merupakan profesi kelas dua. Pertanian justru menjadi salah satu pilar utama kedaulatan pangan yang keberlangsungannya menentukan kehidupan masyarakat.
“Petani harus bangga dengan profesinya. Kalau tidak ada petani, bagaimana kita memenuhi kebutuhan pangan? Persoalannya sekarang bagaimana pertanian ini dikelola secara modern sehingga anak-anak muda melihat bahwa menjadi pengusaha pertanian itu punya masa depan,” imbuhnya.
Pupuk dan Permodalan Jadi Perhatian
Selain persoalan regenerasi, Wawan turut menyoroti keluhan petani terkait distribusi pupuk bersubsidi di sejumlah daerah, termasuk wilayah Pemudukan.
Ia menjelaskan, pembelian pupuk menggunakan KTP berkaitan dengan persyaratan identitas petani, termasuk pencantuman pekerjaan sebagai petani pada kolom pekerjaan di KTP.
Menurutnya, persoalan yang muncul di lapangan perlu ditelusuri agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Apabila terdapat kendala sosialisasi maupun distribusi pupuk, Tani Merdeka siap mengawal dan menyampaikan keluhan petani kepada pihak terkait.
Wawan menilai kepastian akses terhadap sarana produksi, termasuk pupuk dan permodalan, merupakan bagian penting dalam membangun kepercayaan generasi muda terhadap sektor pertanian.
Sebab, perubahan paradigma menjadi pengusaha pertanian tidak cukup hanya melalui ajakan dan kampanye. Petani juga membutuhkan dukungan nyata agar mampu menjalankan usaha secara efisien, memperoleh akses pasar, dan meningkatkan nilai tambah hasil produksinya.
Ia mencontohkan model pertanian di negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Australia, di mana generasi muda dapat mengembangkan usaha pertanian dengan pendekatan profesional dan berorientasi pasar.
Menurut Wawan, pola tersebut dapat menjadi inspirasi untuk membangun pertanian Indonesia yang lebih modern dengan menyesuaikan karakteristik, potensi komoditas, dan kondisi petani di daerah.
Melalui momentum Hari Tani Nasional ke-66, Tani Merdeka Jawa Tengah berharap lahir perubahan mendasar dalam cara masyarakat memandang sektor pertanian. Tidak sekadar mempertahankan lahan warisan, tetapi menjadikannya aset produktif yang mampu menopang kesejahteraan keluarga dan membuka peluang ekonomi bagi generasi berikutnya.
“Yang kita siapkan bukan hanya pertanian untuk hari ini, tetapi bagaimana 10 sampai 30 tahun ke depan anak-anak muda kita masih mau dan bangga menjadi petani. Mereka harus menjadi generasi pengusaha pertanian yang menguasai teknologi, memahami pasar, dan mampu meningkatkan kesejahteraannya,” pungkasnya. (Hds/K2)












