DAERAH  

Asap TPA Putri Cempo Kepung Plesungan, Bupati Karanganyar Bergerak

IMG 20260905 WA0211
Bupati Karanganyar Rober Christanto bersama istri dan didampingi Camat Gondangrejo kunjungi pengungsian di Gor UTP Plesungan, Gondangrejo.

Kabar Karanganyar, — Kepulan asap pekat dari kebakaran TPA Putri Cempo di Mojosongo, Solo, membuat warga Desa Plesungan, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, terdampak serius. Merespons kondisi darurat tersebut, Bupati Karanganyar Rober Christanto bergerak cepat dengan menyiapkan lokasi pengungsian sekaligus memperkuat penanganan kesehatan bagi warga yang terpapar asap.

Dalam peninjauan penanganan dampak asap kebakaran pada Sabtu (5/9/2026), Rober memastikan pemerintah daerah tidak tinggal diam menghadapi kondisi yang mengancam kenyamanan dan kesehatan masyarakat di wilayah perbatasan Karanganyar-Solo tersebut.

Sekitar 100 hingga 130 warga sempat dievakuasi ke lokasi pengungsian di UTP. Sementara secara keseluruhan, warga yang terdampak kepungan asap diperkirakan mencapai sekitar 1.500 jiwa.

“Yang paling penting sekarang bagaimana masyarakat kita yang terdampak ini bisa kita amankan. Kita siapkan tempat untuk pengungsian dan kebutuhan kesehatan masyarakat,” kata Rober.

Pemkab Karanganyar juga menyiagakan berbagai kebutuhan dasar untuk warga terdampak, mulai dari obat-obatan, masker, oksigen hingga pemeriksaan mata. Kendati demikian, hingga saat ini belum ada warga yang harus menjalani rawat inap akibat dampak asap.

Pemantauan kesehatan tetap dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan kesehatan apabila paparan asap berlangsung lebih lama.

Di sisi lain, upaya pemadaman terus dikebut. Pemkab Karanganyar berkoordinasi dengan BPBD, Dinas Kesehatan, serta Polda Jawa Tengah untuk mempercepat penanganan kebakaran. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemadaman menggunakan helikopter water bombing.

Usaha Pemadaman Dilakukan secara gotong royong lintas sektor dan wilayah

Rober juga meninjau titik pengambilan air yang digunakan untuk mendukung operasi pemadaman melalui udara tersebut.
Namun, bagi Rober, pemadaman api bukan satu-satunya persoalan yang harus diselesaikan. Kebakaran TPA Putri Cempo yang kembali terjadi menjadi alarm bahwa persoalan pengelolaan sampah membutuhkan solusi yang lebih permanen dan tidak berhenti pada penanganan ketika bencana terjadi.

“Ini harus kita diskusikan bersama, bukan hanya di Karanganyar. Karena TPA ini berada di wilayah Solo, tentu harus ada pembicaraan lintas daerah untuk mencari solusi ke depan,” ujarnya.

Pemkab Karanganyar berencana melakukan koordinasi lintas sektoral, baik dengan organisasi perangkat daerah di internal Karanganyar maupun pemerintah daerah sekitar, termasuk Kota Solo sebagai wilayah yang mengelola TPA Putri Cempo.

Pembahasan tersebut diharapkan menghasilkan langkah jangka panjang agar kejadian kebakaran serupa tidak kembali berulang dan dampaknya tidak terus merembet ke wilayah permukiman di Karanganyar.

Pasalnya, kebakaran TPA Putri Cempo kali ini bukan menjadi kejadian pertama. Kondisi tersebut mempertegas perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan dan pengamanan kawasan TPA, terutama memasuki musim kemarau ketika potensi kebakaran meningkat.

Bupati Karanganyar siapkan langkah strategis agar kejadian serupa tidak terjadi di TPA Sukosari Jumantono

Rober pun meminta agar pengalaman kebakaran TPA Putri Cempo menjadi pelajaran bersama bagi daerah lain. Pemkab Karanganyar telah menginstruksikan Dinas Lingkungan Hidup untuk meningkatkan langkah pencegahan di sejumlah lokasi rawan, termasuk TPA Sukosari, Jumantono.
Penyiraman rutin akan dilakukan untuk menurunkan suhu di kawasan TPA dan mengurangi potensi munculnya titik api selama musim kemarau.

“Jangan sampai persoalan di satu tempat kemudian menimbulkan dampak ke masyarakat di daerah lain. Ini harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.

Bagi warga Plesungan, penanganan cepat memang dibutuhkan untuk menghadapi kepungan asap. Namun di balik itu, masyarakat juga membutuhkan kepastian bahwa bencana serupa tidak kembali datang.

Kebakaran TPA Putri Cempo kini bukan sekadar persoalan api dan asap. Peristiwa tersebut menjadi ujian bagi sinergi antardaerah dalam mengelola persoalan sampah sekaligus melindungi warga yang tinggal di sekitar kawasan terdampak. (Hds/K2)