BUDAYA  

Suruh Kalong Tasikmadu: Tanah Persinggahan Raja yang Berubah Jadi Kampung Pekerja

IMG 20260904 171416
Ilustrasi jejak sejarah Kampung Suruh Beromo menjadi Suruh Kalong di Tasikmadu Karanganyar.

Kabar Karanganyar, — Di balik padatnya permukiman warga Dusun Suruh Kalong, Desa Pandeyan, Kecamatan Tasikmadu, tersimpan cerita panjang tentang tanah yang pernah menjadi tempat persinggahan raja dan pejabat keraton.

Jauh sebelum dikenal sebagai Suruh Kalong, kawasan ini disebut Suruh Bemoro atau Suruh Sebomoro. Tanah tersebut menjadi bagian dari perjalanan sejarah berdirinya Pabrik Gula Tasikmadu sekaligus saksi kedatangan Raja Kasunanan Surakarta Pakubuwono IX bersama Adipati Mangkunegara IV.

Kini, jejak para bangsawan itu nyaris tak terlihat di antara rumah-rumah warga. Namun nama Suruh Bemoro masih hidup dalam ingatan masyarakat dan peninggalan budaya yang bertahan hingga hari ini.

Pegiat budaya Karanganyar sekaligus Ketua Yayasan Suket Lawu Mawiji, Sudarto Purwo Handoko, mengatakan sejarah Suruh Kalong tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Pabrik Gula Tasikmadu pada abad ke-19.

Berdasarkan riset dan sejumlah referensi, termasuk Tasikmadu Padma Susastra (1898) serta Undang-Undang Dastra Diningrat IV (1895–1910), kawasan Suruh Bemoro menjadi salah satu tempat persinggahan ketika rombongan kerajaan meninjau pembangunan Pabrik Gula Tasikmadu.

“Dulu ini merupakan tempat persinggahan raja dan pejabat keraton ketika meninjau pembangunan Pabrik Gula Tasikmadu. Namanya Suruh Bemoro atau Suruh Sebomoro,” ujar Handoko, Jumat (4/9/2026).

Dari tempat persinggahan, kawasan itu kemudian memasuki babak sejarah yang berbeda.

Pembangunan Pabrik Gula Tasikmadu yang disebut rampung pada 1871 membawa perubahan besar. Pabrik tidak hanya mengubah wajah ekonomi kawasan, tetapi juga menggerakkan arus manusia.

Para pekerja berdatangan dari berbagai daerah. Lahan-lahan di sekitar Suruh Bemoro mulai dipenuhi pemukiman. Kawasan yang sebelumnya menjadi tempat singgah rombongan kerajaan perlahan berubah menjadi ruang hidup para buruh dan pekerja pabrik gula.

Suruh Bemoro pun berubah menjadi kampung pekerja.

Tetapi perubahan itu tidak berlangsung tanpa persoalan. Pertumbuhan penduduk membuat kebutuhan ruang semakin besar. Lahan antara warga setempat dan para pendatang mulai bersinggungan. Batas wilayah dan ruang hidup menjadi persoalan yang harus segera diselesaikan.

Di titik inilah nama Suruh Kalong mulai menemukan maknanya

Carik Desa Pandeyan, Andika Aji Prasetya, menuturkan, penataan kawasan dilakukan dengan mengurangi atau memangkas sebagian lahan Suruh Bemoro dan Suruh Wangan agar dapat digunakan untuk pemukiman masyarakat yang terus bertambah.

Keputusan tersebut kemudian dikaitkan dengan perubahan nama kawasan.

Bekel Sondokoro pada masa itu menetapkan nama Suruh Kalong. Kata “kalong” dalam pemaknaan Jawa merujuk pada sesuatu yang berkurang atau dipangkas.

Namun, bagi masyarakat setempat, nama itu tidak berhenti pada arti harfiahnya.

Di dalamnya terdapat cerita tentang kerelaan

“Perubahan nama ini menjadi simbol pengingat atas keikhlasan warga pribumi Suruh Wangan yang rela membagi tanahnya kepada para pendatang,” kata Andika.

Dengan begitu, nama Suruh Kalong bukan sekadar penanda sebuah dusun. Ia merekam sebuah keputusan sosial ketika masyarakat memilih berbagi ruang daripada membiarkan perbedaan asal-usul berubah menjadi konflik.

Dari tanah persinggahan raja, kemudian menjadi kawasan buruh, Suruh Kalong tumbuh mengikuti denyut Pabrik Gula Tasikmadu. Orang-orang datang membawa tenaga, harapan dan kehidupan baru. Dari situlah sebuah komunitas terbentuk.

Waktu kemudian mengubah banyak hal. Keraton tak lagi menjadi pusat aktivitas kawasan. Para pekerja dan generasi penerusnya menetap. Rumah-rumah tumbuh menggantikan ruang-ruang lama.

Namun Suruh Bemoro tidak sepenuhnya hilang. Namanya masih melekat pada Punden Raden Sebomoro, peninggalan yang hingga kini tetap dikenang dan dirawat sebagai bagian dari jejak sejarah serta budaya masyarakat setempat.

Suruh Kalong akhirnya menyimpan dua wajah sejarah dalam satu nama

Di satu sisi, ia adalah tanah yang pernah menjadi tempat persinggahan raja dan pejabat keraton. Di sisi lain, ia adalah kampung yang lahir dari geliat Pabrik Gula Tasikmadu dan kedatangan para pekerja dari berbagai penjuru.

Dan di antara dua zaman itu, terselip satu pesan yang masih relevan hingga sekarang: sebuah kampung tidak hanya dibangun oleh tanah dan rumah, tetapi juga oleh kerelaan masyarakat untuk berbagi ruang dan hidup bersama. (Hds/K2)