Yayasan Balindeso Peduli Gandeng Petani Milenial Greenhouse Tawangmangu Suplai MBG di Karanganyar

IMG 20260130 WA0074
Greenhouse sederhana milik petani melenial di Tawangmangu yang jalin kerjasama bersama koperasi Mitra Usaha Jaya sebagai pemasok resmi sayur untuk menu MBG

Kabar Karanganyar, – Yayasan Balindeso Peduli berperan aktif mendukung Program Makan Bergizi (MBG) pemerintah dengan mengoperasikan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Karanganyar. Dalam pelaksanaannya, yayasan ini menggandeng Koperasi Mitra Jaya sebagai koperasi penyuplai bahan baku MBG, yang bekerja sama langsung dengan petani milenial di Tawangmangu yang menerapkan sistem pertanian berbasis greenhouse sebagai penyedia utama sayuran.

Perwakilan Yayasan Balindeso Peduli, Aji Darsono, menyampaikan bahwa keterlibatan petani lokal dalam rantai pasok MBG menjadi prinsip utama yayasan sejak awal menjalankan dapur SPPG. Menurutnya, MBG tidak hanya ditujukan untuk pemenuhan gizi penerima manfaat, tetapi juga dirancang sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi petani.

“Sejak awal kami ingin MBG ini punya dampak ganda. Di satu sisi anak-anak dan penerima manfaat mendapatkan asupan bergizi, di sisi lain petani lokal mendapatkan kepastian pasar, harga yang layak, dan pembayaran yang jelas,” ujar Aji Darsono.

Ia menjelaskan, kerja sama dengan Koperasi Mitra Jaya dipilih untuk memastikan sistem distribusi berjalan profesional dan berkelanjutan, sekaligus membuka ruang partisipasi petani milenial yang mulai beralih ke pertanian modern.

“Kami melihat petani di Tawangmangu ini punya semangat pembaruan. Mereka mulai menerapkan sistem rumah naungan atau greenhouse, sehingga kualitas sayuran lebih terjamin. Ini penting karena dapur MBG membutuhkan bahan baku yang segar, aman, dan konsisten,” jelasnya.

Salah satu petani pemasok, Lartono Wisnu Hanggono, mengungkapkan kerja sama tersebut bermula dari ketertarikan terhadap program MBG yang menawarkan kepastian serapan hasil pertanian. Menurutnya, pola ini berbeda dengan sistem perdagangan konvensional yang selama ini dijalani petani.

“Kami dulu dagang ke pasar dan pengepul, fluktuasi harga sangat tinggi. Bahkan sering kejadian barang dikirim tapi pembayarannya tidak jelas. Di MBG ini ada kepastian, itu yang membuat kami tertarik,” katanya.

Melalui koperasi Mitra Usaha Jaya, petani menyuplai berbagai komoditas sayuran seperti wortel, tomat, timun, selada, sawi putih, sawi sendok atau pakcoy, kubis, brokoli, hingga kembang kol. Untuk satu dapur SPPG, kebutuhan sayuran mencapai sekitar 1,5 hingga 1,8 kuintal per hari dengan komposisi beragam.

“Misalnya wortel sekitar 65 kilogram, timun 55 kilogram, selada air 25 kilogram, tomat 60 kilogram, dan jenis lain menyesuaikan menu,” ungkap Lartono.

Untuk menjaga kualitas produksi, sebagian lahan pertanian seluas sekitar 1.500 meter persegi dimanfaatkan sebagai rumah naungan plastik. Sistem ini dinilai mampu meminimalkan dampak cuaca ekstrem, khususnya kabut tebal yang kerap terjadi di kawasan Tawangmangu pada musim tertentu.

Aji Darsono menambahkan, pola kolaborasi antara yayasan, koperasi, dan petani ini diharapkan menjadi model pelaksanaan MBG yang berkelanjutan.

“Kami ingin MBG ini tidak hanya berjalan sebagai program makan gratis, tapi menjadi ekosistem. Ada petani yang berdaya, koperasi yang kuat, dan dapur SPPG yang konsisten menyediakan makanan bergizi,” tegasnya.

Yayasan Balindeso Peduli menilai kualitas sayuran hasil pertanian greenhouse petani milenial Tawangmangu lebih terjaga, sehingga layak menjadi pemasok utama bahan baku MBG di Kabupaten Karanganyar.(Hds/K2)