Kabar Karanganyar, – Penolakan terhadap rencana pengembangan panas bumi kembali disuarakan melalui aksi yang tak biasa. Sekitar 29 pelari disiapkan menempuh jarak 150 kilometer secara estafet, membawa pesan solidaritas penolakan terhadap pengembangan proyek geothermal yang dikaitkan dengan kawasan Gunung Lawu dan Gunung Ungaran.
Aksi lari tersebut saat ini tengah dimatangkan oleh para peserta bersama koordinator aksi, Sigit Pinjal. Berdasarkan komunikasi dengan Sigit, hingga Jumat (18/9/2026), peserta yang sudah terdata sekitar 29 orang, dengan komposisi rute 4 pelari akan start dari pintu bancolono, Cemoro kandang, Gondosuli, Tawangmangu, sementara 25 pelari lainnya akan tempuh rute estafet dengan titik start dari kota/kabupaten masing – masing.
“Yang full 150 km sementara empat. Yang lain estafet Karanganyar-Solo, Solo-Boyolali, Boyolali-Ungaran, seterusnya,” ujar Sigit dalam komunikasi terkait persiapan aksi.
Konsepnya, para pelari akan membagi rute menjadi sejumlah etape. Pelari dari masing-masing wilayah akan mengambil bagian pada jalur yang telah ditentukan hingga estafet tersebut tersambung menuju kantor gubernur Jawa Tengah.
Sementara itu, titik keberangkatan dan pembagian nama peserta masih dalam proses finalisasi. Ketika ditanya mengenai kepastian daftar pelari, Sigit menyebut koordinasi terakhir masih akan dilakukan.
“Durung fix. Nko bengi lagi koordinasi terakhir (belum pasti nanti malam baru koordinasi terakhir) ,” katanya, Jumat (19/092026).
Aksi lari 150 kilometer itu bukan sekadar aktivitas olahraga. Para peserta menjadikannya sebagai bentuk solidaritas untuk menyampaikan sikap penolakan terhadap rencana pengembangan panas bumi yang mereka kaitkan dengan kawasan Lawu dan Ungaran.
Isu geothermal sendiri tengah menjadi perhatian di Jawa Tengah. Kementerian ESDM pada 2 September 2026 menyatakan pengembangan panas bumi Gunung Ungaran masih berada pada tahap eksplorasi dan studi kelayakan. Pemerintah menyebut pengembangannya harus melalui kajian teknis, lingkungan, keselamatan, perizinan, serta mempertimbangkan kondisi sosial dan kawasan cagar budaya, termasuk Candi Gedong Songo.
Sementara untuk Gunung Lawu, Kementerian ESDM sebelumnya menegaskan bahwa Gunung Lawu tidak masuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP). Pemerintah menyebut rencana WKP Gunung Lawu yang pernah diajukan telah dihapus pada 2023. Namun, pemerintah kemudian menyebut wilayah Jenawi sebagai lokasi alternatif untuk Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE), dengan kajian yang diklaim memperhatikan kawasan sakral, budaya, dan lingkungan.
Perbedaan posisi inilah yang membuat aksi lari 150 kilometer tersebut menjadi bagian dari dinamika penolakan masyarakat terhadap rencana pengembangan panas bumi di kawasan yang dianggap memiliki nilai lingkungan, budaya maupun spiritual.
Bagi para pelari, jarak 150 kilometer akan menjadi simbol perjalanan panjang untuk menyampaikan pesan tersebut. Dari Karanganyar, estafet direncanakan bergerak melalui Solo, Boyolali, Ungaran hingga kantor gubernur Jawa Tengah dengan pelari yang akan membawa pesan solidaritas.
Namun hingga kini, daftar lengkap peserta, pembagian etape, serta titik start dan finish masih dalam tahap koordinasi. Sigit memastikan koordinasi terakhir akan dilakukan untuk mematangkan seluruh teknis pelaksanaan aksi.
Aksi 150 kilometer itu pun diproyeksikan bukan hanya menjadi perjalanan fisik para pelari, tetapi juga menjadi panggung untuk menyuarakan sikap kelompok masyarakat yang menolak pengembangan panas bumi di kawasan yang mereka anggap perlu dijaga. (Hds/K2)












