Kabar Karanganyar, — Komitmen Bupati Karanganyar dalam menuntaskan persoalan sampah dari hulu mulai menunjukkan hasil nyata. Jika pada medio 2023 sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukosari, Jumantono mencapai 150 ton per hari, maka per Agustus 2025 angka itu turun menjadi hanya 100 ton per hari. Penurunan 50 ton per hari ini terjadi karena semakin banyak sampah yang selesai di sumbernya, serta meningkatnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri di lingkungan masing-masing.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Karanganyar, Sunarno, menjelaskan bahwa berbagai kebijakan Bupati, mulai dari regulasi, surat edaran, hingga sanksi dari kementerian, turut mendorong percepatan penanganan sampah di hulu.
“Alhamdulillah, dengan dorongan Bapak Bupati, dukungan dewan, serta partisipasi masyarakat, sampah yang masuk ke TPA bisa turun 50 ton. Ini tidak lepas dari desa, sekolah, pasar, hingga kecamatan yang sudah mulai mengelola sampahnya secara mandiri,” ujar Sunarno. Selasa (2/12/2025)
DLH Karanganyar kini memfokuskan pembinaan pada pegiat lingkungan, terutama bank sampah. Total terdapat 60 bank sampah aktif di Karanganyar, namun pada kegiatan pembinaan yang digelar Rabu pagi, sebanyak 30 bank sampah perwakilan desa diundang menerima pendampingan sekaligus bantuan sarana.
“Rata-rata masing-masing bank sampah dapat satu unit timbangan digital dari Pak Bupati. Yang khusus lomba besok, timbangannya lebih besar kapasitasnya. Hari ini 30 unit kita serahkan, sisanya menyusul,” jelas Sunarno.
Sebagai bentuk apresiasi, besok, Jumat, Pemkab akan meluncurkan program pengelolaan sampah rumah tangga di Badran Asri, yang akan diresmikan langsung oleh Bupati. Pada kesempatan itu juga akan diserahkan Penghargaan Desa Mandiri Sampah Terbaik, dengan hadiah berupa kendaraan roda tiga dan uang pembinaan Rp5 juta untuk juara pertama, serta hadiah untuk juara dua dan tiga. Bank sampah terbaik juga mendapat uang pembinaan dan timbangan digital, sementara sekolah Adiwiyata memperoleh tempat sampah portable dan uang pembinaan.
“Ini mungkin yang pertama di Jawa Tengah. Biasanya penghargaan hanya sertifikat, tapi Pak Bupati ingin ada reward nyata untuk memicu semangat masyarakat,” kata Sunarno.
Terkait kondisi TPA Sukosari, Sunarno memaparkan bahwa zona pasif seluas 10.000 meter persegi telah ditutup 100% per 1 Desember. Di lokasi itu dipasang 15 titik pipa gas metan, sembilan di zona pasif dan enam di zona aktif.
“Pemasangan pipa ini untuk mengendalikan gas metan agar tidak terjadi kebakaran. Ke depan, kami sudah berkoordinasi dengan PLN Power untuk kemungkinan pemanfaatan biogas bagi warga Dusun Sukosari. Potensinya besar, minimal bisa menggantikan gas melon untuk kebutuhan rumah tangga,” jelasnya.
Dalam waktu dekat, Pemkab Karanganyar juga akan mengoperasikan pabrik RDF yang ditargetkan berfungsi pada Februari 2026. Pabrik tersebut mampu mengolah 50 ton sampah per hari, ditambah pabrik kompos yang mampu mengolah 25 ton. Artinya, masih tersisa 25 ton sampah yang harus diselesaikan melalui penguatan sistem bank sampah dan pengelolaan mandiri masyarakat di tiap desa.
Untuk mempercepat penanganan sampah, tahun ini DLH Karanganyar mengelola anggaran sekitar Rp27 miliar dari APBD Kabupaten dan bantuan provinsi. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan pabrik RDF, pabrik kompos, hanggar alat berat, IPAL, pemasangan pipa gas metan, serta penutupan lahan landfill. Sunarno berharap langkah-langkah strategis ini menjadi tonggak penting menuju Karanganyar sebagai daerah mandiri sampah.
“Target kita, sampah selesai di sumbernya. Kalau hulu kuat, hilir tidak lagi membebani anggaran besar. Ini sudah mulai terlihat hasilnya,” tegasnya.(Hds/K2)












