Kabar Karanganyar, — Di tengah dinginnya angin Gunung Lawu, dapur sederhana di Basecamp Cemoro Kandang, Tawangmangu, Sabtu (17/10/2026) malam, justru terasa hangat. Bukan karena api perapian, melainkan oleh kesibukan para relawan yang berjibaku menyiapkan bekal makanan untuk rekan-rekan mereka yang akan kembali berjuang memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) keesokan harinya.
Di tengah kesibukan itu, Bupati Karanganyar Rober Christanto datang menyapa. Kehadirannya membawa lebih dari sekadar kunjungan. Ada perhatian, rasa bangga, dan dukungan bagi para relawan yang mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kenyamanan beristirahat demi menyelamatkan hutan di lereng Lawu.
Malam itu, Cemoro Kandang menjadi salah satu titik penting pergerakan penanganan karhutla. Basecamp yang difungsikan sebagai Posko AJU 2 tersebut tetap hidup ketika sebagian orang mungkin sudah terlelap. Di dapur, sejumlah relawan sibuk menyiapkan kebutuhan logistik. Sementara itu, sebagian lainnya masih bersiaga untuk memastikan operasi pemadaman berjalan pada hari berikutnya.
Rober, yang menurut informasi baru saja tiba dari kunjungan luar kota, menyempatkan diri hadir di tengah aktivitas mereka. Ia menghampiri para relawan yang sedang menyiapkan makanan, lalu melontarkan pertanyaan sederhana yang mencairkan suasana.
“Ini lagi pada mempersiapkan menu buat bekal besok, nggeh?” tanyanya.
Pertanyaan ringan itu disambut suasana akrab. Di antara lelah dan dinginnya malam, kehadiran orang nomor satu di Karanganyar tersebut menghadirkan keceriaan tersendiri. Para relawan yang biasanya berhadapan dengan medan terjal, kepulan asap, dan ancaman api sejenak merasakan kehangatan perhatian dari pemerintah daerah.
Namun, kunjungan itu bukan sekadar menyapa dan memberi semangat. Setelah berbincang dengan para relawan di dapur umum, Rober melanjutkan koordinasi singkat bersama koordinator posko. Ia berdiskusi dengan sejumlah personel yang masih bersiaga, membahas upaya penanganan kebakaran yang terus menjadi perhatian bersama.
Di tengah situasi yang membutuhkan kerja cepat, Rober menegaskan penanganan karhutla di Gunung Lawu tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Gotong royong lintas unsur, mulai dari pemerintah, petugas lapangan, hingga relawan, menjadi kunci agar kebakaran segera terkendali dan tidak meluas.
Status Tanggal Darurat Karhutla Gunung Lawu Resmi Ditetapkan
Langkah konkret pun diambil. Pemerintah Kabupaten Karanganyar menetapkan status tanggap darurat karhutla Gunung Lawu selama 14 hari ke depan. Keputusan tersebut menjadi pijakan untuk memperkuat koordinasi dan mengoptimalkan sumber daya dalam menghadapi kebakaran yang mengancam kawasan hutan di lereng Lawu.
“Tadi sudah saya tanda tangani penetapan status tanggap darurat karhutla Gunung Lawu sampai 14 hari ke depan,” ungkap Rober dalam diskusi malam itu.
Bagi Rober, penetapan status tersebut merupakan langkah taktis untuk mempercepat penanganan bencana. Dengan kemampuan sumber daya yang dimiliki pemerintah kabupaten, dukungan dari pemerintah pusat dan provinsi dinilai penting agar upaya pemadaman dapat dilakukan lebih maksimal.
Salah satu langkah yang tengah diupayakan adalah penggunaan teknik water bombing atau pemadaman melalui pengeboman air dari udara. Pemerintah Kabupaten Karanganyar telah mengajukan permohonan bantuan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD Provinsi Jawa Tengah.
“Tadi Pak Kalak BPBD juga sudah bersurat kepada BNPB dan BPBD untuk meminta bantuan water bombing, dan sudah ada respons positif dari pihak-pihak tersebut,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga mengusulkan rekayasa cuaca sebagai upaya tambahan untuk memicu turunnya hujan di kawasan Gunung Lawu. Harapannya, curah hujan dapat membantu meredam titik-titik api yang sulit dijangkau melalui pemadaman langsung di lapangan.
“Pak Kalak juga memohon dalam suratnya tentang rekayasa cuaca agar cepat turun hujan dan kebakarannya padam,” sambungnya.
Di balik upaya administratif, koordinasi, dan rencana pengerahan bantuan tersebut, ada perjuangan para relawan yang berlangsung tanpa banyak sorotan. Mereka harus bersiap menghadapi medan yang tidak mudah, suhu dingin, keterbatasan akses, serta kondisi kebakaran yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Di Cemoro Kandang malam itu, perjuangan tersebut terlihat dari hal-hal sederhana. Dari tangan-tangan yang menyiapkan bekal makanan, percakapan singkat di dapur, hingga para personel yang memilih tetap berjaga ketika malam semakin larut.
Rober menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan karhutla. Ia mengaku bangga atas dedikasi para relawan yang terus bergerak di tengah situasi sulit.
“Kami ucapkan terima kasih. Bangga sekali kami selaku pemerintah atas dedikasi teman-teman relawan kali ini. Semoga kebakaran hutan ini segera kita lewati, dan Gunung Lawu kembali hijau serta lestari,” tuturnya.
Malam semakin dingin di lereng Lawu. Namun, semangat para relawan tidak ikut surut. Di tengah ancaman api yang masih harus dihadapi, kehadiran bupati menjadi pengingat bahwa mereka tidak berjuang sendirian.
Ada pemerintah yang berupaya membuka jalan bagi dukungan tambahan, ada relawan yang terus bergerak, dan ada harapan yang sama untuk mengembalikan kehijauan hutan Lawu.
Sebab, yang sedang diperjuangkan bukan sekadar memadamkan api. Lebih dari itu, mereka berusaha menjaga kehidupan, kelestarian alam, dan masa depan Gunung Lawu agar tetap menjadi rumah bagi banyak makhluk hidup. (Hds/K2)












