DAERAH  

Pallawa 2026: Pijar Bergerak, Karanganyar Jemput Generasi Literat

WA 1790772191440
Bunda Literasi Kabupaten Karananyar membuka kegiatan Pallawa 2026 di halaman gedung perpustakaan Karanganyar.

Kabar Karanganyar, — Membaca tak boleh menunggu. Ketika anak-anak semakin akrab dengan layar dan teknologi, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Karanganyar memilih bergerak lebih dekat: menjemput mereka menuju buku dan perpustakaan.

Semangat itu mengemuka dalam Festival Literasi Pesona Literasi Lereng Lawu Karanganyar (Pallawa) 2026 yang digelar 29 September hingga 2 Oktober 2026.

Bukan sekadar festival, Pallawa 2026 menjadi panggung lahirnya sejumlah inovasi literasi. Salah satu yang paling menonjol adalah peluncuran Mobil Pengawal Literasi Maju Karanganyar (Pijar), armada yang diproyeksikan menjadi kendaraan jemput bola untuk membawa anak-anak mengenal dunia perpustakaan sejak usia dini.

Pijar akan menjemput anak-anak PAUD dan TK dari sekolah secara bergantian menuju Perpustakaan Daerah. Sekitar 15 anak dapat diangkut dalam setiap perjalanan untuk kemudian diajak mengenal lingkungan perpustakaan dan mengikuti berbagai aktivitas literasi interaktif.

Gagasan itu sederhana, tetapi membawa pesan besar: perpustakaan tidak boleh hanya menunggu pembaca datang. Literasi harus bergerak mencari dan mendekati generasi pembacanya.

Festival yang mengusung tema “Membaca, Berkarya, dan Menginspirasi” tersebut dibuka Rabu (30/9/2026) oleh Bunda Literasi Kabupaten Karanganyar, dr. Farida Nurhayati. Pembukaan turut dihadiri Wakil Bupati Karanganyar Adhe Eliana, jajaran Forkopimda, pimpinan OPD dan BUMD, Ketua Bhayangkari serta sejumlah tamu undangan.

Hingga hari kedua, antusiasme masyarakat telah terlihat. Sebanyak 1.300 pengunjung tercatat hadir dari target 2.000 pengunjung selama festival berlangsung.

Kepala Disarpus Karanganyar, Nurhayati, menegaskan Pallawa dirancang untuk memperluas budaya membaca sekaligus membuka ruang kolaborasi literasi.

“Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan minat baca masyarakat Kabupaten Karanganyar secara umum, membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak yang berfokus pada literasi, serta menjadi media edukasi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Selain Pijar, Pallawa 2026 juga menjadi momentum peluncuran program Serbuk Berlian, hasil kolaborasi Disarpus dengan Dinas Pendidikan, serta Titik Baca Digital sebagai fasilitas pendukung membaca berbasis teknologi.

Bagi Bunda Literasi Karanganyar, dr. Farida Nurhayati, kehadiran Pijar dan Serbuk Berlian menjadi langkah penting karena budaya membaca idealnya ditanamkan jauh sebelum anak mengenal kompleksitas dunia.

“Melalui program berkonsep jemput bola ini, tim Disarpus akan melakukan kunjungan langsung ke sekolah-sekolah tingkat PAUD dan TK. Tak hanya itu, disiapkan pula armada mobil khusus bernama Pijar untuk memboyong anak-anak secara bergantian menuju Gedung Perpustakaan Daerah,” ujarnya.

Di Tengah Gempuran AI, Buku Tetap Punya Peran

Pesan lebih besar disampaikan Wakil Bupati Karanganyar Adhe Eliana. Di tengah derasnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), ia mengingatkan bahwa teknologi tidak boleh membuat budaya membaca kehilangan tempat.

Menurutnya, AI mampu mengerjakan berbagai hal, tetapi tidak memiliki empati dan rasa seperti manusia.

“AI bisa mengerjakan banyak hal, tetapi tidak memiliki empati dan rasa. Tugas kita bersama adalah bagaimana menanamkan budaya gemar membaca dan literasi di Kabupaten Karanganyar. Karena dengan membaca buku, wawasan kita bertambah dan imajinasi kita akan terus berkembang,” tegas Adhe.

Literasi, karena itu, tidak hanya soal seberapa banyak buku yang dibaca. Lebih jauh, literasi menjadi bekal untuk memahami dunia, memilah informasi, membangun imajinasi, melahirkan gagasan dan membentuk karakter.

Bekal tersebut dibutuhkan untuk menyiapkan generasi Karanganyar menghadapi perubahan zaman sekaligus menyongsong Indonesia Emas 2045.

Pallawa 2026 juga diisi penyerahan piala dan hadiah bagi pemenang Lomba Perpustakaan Desa 2026 serta sertifikat identifikasi naskah kuno dari Perpustakaan Nasional RI untuk enam naskah kuno daerah yang teridentifikasi pada 2025, salah satunya bersumber dari Museum Keris Brojobuwono.

Seluruh rangkaian kegiatan didanai melalui DAK Non-Fisik Bidang Perpustakaan Tahun 2026 dari Perpustakaan Nasional RI.

Kini, pekerjaan literasi Karanganyar bukan hanya bagaimana menghadirkan lebih banyak buku. Tantangannya adalah bagaimana membuat anak-anak mau mendekati buku, mencintai proses membaca dan menjadikan pengetahuan sebagai bekal hidup.

Dan untuk itu, Pijar mulai melaju. Menjemput anak-anak. Membawa mereka mendekati perpustakaan. Membuka pintu menuju dunia yang jauh lebih luas daripada sekadar layar di genggam. (Hds/K2)