DAERAH  

Minyakita Bantuan Pangan Berkualitas Buruk, Warga Karanganyar Kembalikan ke Kelurahan dan Dapat Pengganti

IMG 20260624 WA0082
Seorang petugas kelurahan sedang menerima dan mengganti minyak goreng bantuan pangan yang berkualitas buruk dari masyarakat.

Kabar Karanganyar, – Minyak goreng merek Minyakita yang dibagikan kepada masyarakat melalui program bantuan pangan pemerintah dilaporkan mengalami masalah kualitas di sejumlah wilayah di Kecamatan Karanganyar. Akibatnya, ratusan penerima manfaat mengembalikan minyak goreng tersebut ke kantor desa maupun kelurahan untuk ditukarkan dengan produk pengganti yang disediakan oleh Bulog.

Keluhan muncul setelah sejumlah warga penerima bantuan pangan menemukan kondisi minyak goreng yang dinilai tidak layak konsumsi. Selain warna minyak yang lebih pekat dari biasanya, warga juga mengeluhkan aroma menyengat menyerupai minyak tanah atau solar.

Camat Karanganyar, Sutarmo, membenarkan adanya proses penggantian minyak goreng bantuan tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa yang terjadi bukan penarikan paksa, melainkan penukaran bagi warga yang menerima minyak dengan kualitas kurang baik.

“Benar ada penukaran. Warga yang menerima minyak dengan kualitas kurang baik diperbolehkan mengembalikannya melalui kelurahan untuk kemudian diganti oleh Bulog,” ujarnya.

Menurut Sutarmo, beberapa kelurahan yang terkonfirmasi melakukan penukaran antara lain Kelurahan Bejen, Tegal Gede, Gaduang, dan Lalung. Meski demikian, tidak seluruh kelurahan di Kecamatan Karanganyar melaporkan adanya permasalahan serupa.

Ia menjelaskan, bantuan tersebut merupakan bagian dari program bantuan pangan rutin yang disalurkan pemerintah melalui Bulog. Dalam setiap paket bantuan, masyarakat menerima beras dan minyak goreng. Dari laporan yang diterima, persoalan hanya ditemukan pada komoditas minyak goreng, sementara kualitas beras dinyatakan baik.

“Distribusi bantuan dilakukan langsung dari Bulog ke masing-masing kelurahan, sehingga teknis penukaran sepenuhnya dikelola oleh pihak kelurahan,” katanya.

Sementara itu, Lurah Bejen, Agus Marulli, mengungkapkan pihaknya pertama kali mengetahui adanya persoalan tersebut setelah mendapat informasi dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Setelah dilakukan pengecekan di lapangan, sejumlah warga melaporkan minyak goreng bantuan memiliki bau tidak sedap.

“Warga mengeluhkan baunya seperti minyak tanah atau solar. Selain itu warnanya juga lebih gelap dan pekat dibanding minyak goreng pada umumnya,” jelas Agus.

Beberapa warga bahkan mengaku mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang digoreng menggunakan minyak tersebut. Keluhan yang muncul antara lain pusing dan sakit tenggorokan.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Bulog bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan langsung melakukan pengecekan ke lokasi pada awal pekan ini. Pada hari yang sama, stok minyak goreng pengganti dikirim ke kelurahan untuk dibagikan kepada warga yang mengembalikan produk bermasalah.

Di Kelurahan Bejen sendiri terdapat sekitar 740 penerima bantuan pangan. Minyak goreng yang sebelumnya dikemas dalam ukuran 2 liter diganti dengan dua botol kemasan 1 liter sehingga jumlah yang diterima warga tetap sama.

“Stok pengganti sudah tersedia di kantor kelurahan sesuai jumlah bantuan yang dibagikan sebelumnya. Warga yang masih menyimpan minyak bermasalah dapat datang untuk melakukan penukaran,” ujarnya.

Agus menambahkan, pihak kelurahan tetap membuka layanan penukaran selama masih ada warga yang membawa minyak goreng yang diduga bermasalah. Bahkan, sampel minyak yang dikeluhkan masyarakat masih disimpan sebagai bahan pemeriksaan apabila diperlukan tindak lanjut lebih lanjut dari pihak terkait.

Meski ditemukan persoalan pada minyak goreng, pemerintah memastikan kualitas beras dalam paket bantuan pangan tetap aman dan tidak ditemukan keluhan dari masyarakat.

Proses penukaran minyak goreng bantuan tersebut telah berlangsung sejak Senin lalu dan terus dilakukan di sejumlah kelurahan yang menerima laporan serupa, sebagai upaya memastikan bantuan pangan yang diterima masyarakat tetap layak dan aman untuk dikonsumsi. (Hds/K2)