Kabar Karanganyar, – Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Karanganyar yang juga Wakil Bupati Karanganyar, Ade Elliana, menegaskan tidak akan segan merekomendasikan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk dievaluasi oleh Badan Gizi Nasional (BGN) apabila terbukti menurunkan kualitas maupun memainkan harga menu MBG selama Ramadan.
Kader Partai Gerindra tersebut menegaskan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar pembagian makanan, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun generasi sehat, kuat, dan cerdas dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Silakan menyesuaikan bentuknya menjadi makanan kering karena bulan puasa. Tapi kualitas dan kandungan gizi tidak boleh dikurangi. Kalau ada dapur SPPG yang memainkan harga atau menurunkan mutu bahan, tentu akan kami rekomendasikan untuk dievaluasi,” tegas Ade.
Pernyataan itu disampaikan menyusul ramainya sorotan warganet di media sosial terkait menu MBG yang dibagikan di sejumlah sekolah di Kabupaten Karanganyar. Sejumlah akun mengunggah foto dan keluhan mengenai isi paket makanan yang dinilai tidak sebanding dengan anggaran yang telah ditetapkan.
Salah satu unggahan datang dari akun INFO DULUR TAWANGMANGU yang menampilkan menu MBG di salah satu SD pada 24 Februari 2026 berupa kedelai edamame, jeruk, tahu, dan singkong. Unggahan tersebut disertai narasi tentang pentingnya makan bergizi untuk membangun generasi menuju Indonesia Emas 2045.
Komentar bernada kritis juga bermunculan. Akun Maswe Gentong menyoroti komposisi menu berupa empat kurma, sedikit abon sapi, dan roti kemasan. Sementara akun Desca membandingkan paket yang diterima anaknya dengan sekolah lain yang masih mendapatkan telur dan susu kotak. Sindiran pun muncul dari akun lain yang mempertanyakan efektivitas kebijakan perbaikan gizi jika menu dinilai kurang optimal.
Dari berbagai unggahan yang beredar, menu MBG selama Ramadan memang terlihat bervariasi, mulai dari singkong rebus, tahu, edamame, jeruk, roti kemasan, kurma, abon sapi dalam kemasan kecil, telur rebus, jagung, pisang, kacang tanah, hingga susu kotak.
Sesuai informasi yang dihimpun Kabar Karanganyar, harga paket MBG berbeda berdasarkan jenjang pendidikan. Untuk anak TK hingga SD kelas 3 ditetapkan sebesar Rp6.000 per paket. Sedangkan untuk SD kelas 4 hingga SMA sebesar Rp10.000 per paket. Perbedaan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan kalori dan gizi berdasarkan kelompok usia.
Ade Elliana menegaskan, perubahan skema menjadi makanan kering selama Ramadan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengurangi standar gizi seimbang, terutama asupan protein seperti susu, telur, maupun bahan pangan bernutrisi lainnya.
Ia juga mengingatkan agar pengelolaan anggaran di setiap dapur SPPG dilakukan secara transparan dan tepat sasaran. Meski terdapat perbedaan alokasi dana antar jenjang pendidikan, termasuk adanya tambahan biaya (add cost), seluruh anggaran harus benar-benar dimaksimalkan untuk kebutuhan bahan baku makanan.
“Kalau belanjanya memang Rp7.000, ya gunakan sesuai kebutuhan. Tidak harus dipaksakan sampai Rp10.000. Tapi jangan sampai justru kualitasnya diturunkan. Fasilitas dapur dan sewa tempat sudah difasilitasi pemerintah,” ujarnya.
Satgas Percepatan MBG Kabupaten Karanganyar, lanjutnya, akan terus melakukan pengawasan selama Ramadan guna memastikan tidak ada praktik permainan harga bahan pokok maupun penyimpangan dalam pelaksanaan program.
Menurut Ade, MBG merupakan amanat pemerintah pusat yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Program ini menjadi bagian dari upaya besar peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah.
“Ini amanat negara. Kita ingin anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik. MBG adalah investasi generasi penerus bangsa untuk Indonesia Emas 2045. Kalau ada yang bermain-main, tentu akan kami tindak sesuai aturan,” tandasnya.












