BUDAYA  

KGPAA Mangkoenagoro X Sambut Perjalanan Suci Biksu Thudong Menuju Borobudur

IMG 20260523 WA0175
KGPAA Mangkoenegoro X Terima langsung rombongan Biksu yang sedang melaksanakan perjalanan suci ke Borobudur di Pure Mangkoenegoro

SOLO, — Pura Mangkunegaran menjadi salah satu titik persinggahan perjalanan spiritual puluhan biksu Thudong yang tengah berjalan kaki menuju Candi Borobudur dalam rangka menyambut Hari Raya Trisuci Waisak 2570 BE/2026, Sabtu (23/5/2026). Rombongan biksu dari berbagai negara Asia Tenggara itu disambut langsung oleh KGPAA Mangkoenagoro X bersama keluarga besar Mangkunegaran di Pendopo Ageng Pura Mangkunegaran.

Sebanyak sekitar 57 biksu yang berasal dari Thailand, Laos, Malaysia, dan Indonesia menjalani ritual Thudong, sebuah tradisi spiritual dalam ajaran Buddha yang dilakukan dengan berjalan kaki sebagai bentuk latihan kesederhanaan, kedisiplinan, ketekunan, serta pengendalian diri. Perjalanan tersebut dimulai dari Singaraja dan akan berakhir di Candi Borobudur menjelang puncak peringatan Waisak pada 31 Mei 2026.

Dalam sambutannya, Mangkoenagoro X menyampaikan penghormatan kepada para biksu yang menempuh perjalanan lintas negara tersebut. Menurutnya, perjalanan Thudong bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan simbol penyebaran pesan damai, welas asih, dan kemanusiaan di tengah masyarakat.

“Langkah-langkah Yang Mulia melintasi negara, kota, dan komunitas membawa sesuatu yang sangat dibutuhkan dunia saat ini, yakni kedamaian, welas asih, kerendahan hati, dan kemanusiaan,” ujar Mangkoenagoro X.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga harmoni dan toleransi di tengah kehidupan modern yang kerap diwarnai perpecahan. Menurutnya, budaya dan tradisi seharusnya menjadi jembatan yang mendekatkan manusia, bukan menciptakan sekat antar kelompok.

“Kami percaya budaya tidak memisahkan manusia, tetapi justru memperkuat pengertian dan empati antarsesama,” lanjutnya.

Kehadiran para biksu dari berbagai negara Asia Tenggara di Surakarta dinilai menjadi gambaran nyata semangat persaudaraan kawasan yang dibangun atas dasar saling menghormati dan hidup berdampingan. Nilai-nilai sederhana seperti kesabaran, rasa hormat, dan kepedulian terhadap sesama disebut menjadi fondasi penting dalam menciptakan perdamaian.

Sementara itu, Bhante Tejapunno Mahathera menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan pihak Mangkunegaran kepada rombongan biksu Thudong.

“Kami menyampaikan banyak terima kasih atas sambutan dan fasilitas yang diberikan sejak kami memasuki area keraton. Harapan kami, kehadiran para biksu juga membawa manfaat bagi semuanya,” ungkapnya.

Melalui penyambutan tersebut, Pura Mangkunegaran kembali menegaskan perannya sebagai ruang perjumpaan lintas budaya dan tradisi, sekaligus memperkuat nilai toleransi, kemanusiaan, dan persaudaraan di tengah masyarakat. (Hds/K2)