Kabar Karanganyar, — Universitas Muhammadiyah Karanganyar (UMUKA Solo) Solo semakin gencar memperkenalkan dunia perkuliahan kepada kalangan santri. Sejumlah santri dari berbagai pondok tahfidz datang berkunjung ke kampus tersebut untuk mengenal lebih dekat program studi dan beasiswa yang tersedia bagi para penghafal Al-Qur’an.
Kunjungan terbaru dilakukan oleh Pondok Tahfidzul Quran Nurul Iman Gondangrejo, Selasa (14/10/2025). Acara ini merupakan rangkaian kegiatan berbagi wawasan pendidikan tinggi yang sebelumnya juga diikuti beberapa pondok pesantren, termasuk Pondok Muhammadiyah Tajdid di Lurah.
Rektor UMUKA, Prof. Muh. Samsyuri, mengatakan bahwa pihaknya terus membuka ruang bagi para santri yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana tanpa harus meninggalkan lingkungan pesantren.
“Program dari pondok tahfidz sekarang sudah punya kesadaran bagaimana santrinya bisa kuliah. Tidak hanya hafal Quran, tapi juga punya ijazah sarjana yang bisa masuk ke segala lini,” ujar Prof. Samsyuri.
Menurutnya, santri memiliki karakter dan kemampuan luar biasa, namun sering kali belum memiliki ijazah formal yang dapat menunjang karier di berbagai bidang.
“Anak-anak pondok itu karakternya kuat dan disiplin. Tapi kalau hanya hafal Quran tanpa punya ilmu alat atau ijazah, akhirnya eman-eman. Banyak yang sebenarnya kompeten, tapi tidak bisa ikut sertifikasi guru atau P3K karena tidak punya ijazah,” ungkapnya.
Hingga kini, UMUKA telah menjalin kemitraan dengan sekitar 15 pondok pesantren di berbagai wilayah. Para santri yang berminat kuliah ditawarkan beragam program studi — mulai dari Bahasa Arab, Bisnis Digital, hingga Ilmu Komunikasi.
Sebagai bentuk dukungan terhadap para penghafal Al-Qur’an, kampus ini juga memberikan beasiswa tahfidz dengan potongan biaya pendidikan hingga 50 persen.
“Bagi yang hafal 30 juz kami beri keringanan 50 persen dari seluruh biaya. Kalau 15 juz dapat 25 persen. Sedangkan bagi yang kurang mampu bisa melalui jalur KIP (Kartu Indonesia Pintar),” jelas Prof. Samsyuri.
Tahun ini, jumlah penerima KIP Kuliah di UMUKA meningkat tajam hingga mencapai 103 mahasiswa.
“Alhamdulillah tahun ini penerima KIP naik. Mahasiswa yang dapat KIP sudah 103 orang dan kuotanya masih banyak. Kalau KIP itu gratis dan masih dapat uang saku Rp800 ribu per bulan,” tambahnya.
Penyatuan Akademi Kebidanan Lubuk Linggau, Tujuh Prodi Baru Segera Dibuka
Selain fokus pada kemitraan dengan pesantren, UMUKA Solo juga tengah mempersiapkan proses penyatuan dengan Akademi Kebidanan Nusantara Indonesia Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pengembangan kampus untuk menambah program studi baru tanpa harus menabrak kebijakan moratorium pemerintah.
Wakil Rektor II UMUKA Solo, Sarilan, menjelaskan bahwa istilah yang digunakan bukan lagi “penggabungan” seperti dulu, melainkan penyatuan.
“Kalau dulu namanya penggabungan, itu berarti beberapa perguruan tinggi belum ada lalu digabung membentuk yang baru. Nah, kalau penyatuan ini kampusnya sudah ada, dan perguruan tinggi lain disatukan ke dalamnya. Jadi nanti yang di Lubuk Linggau lebur ke UMUKA,” terangnya.
Sarilan menambahkan, proses penyatuan tersebut masih menunggu SK resmi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
“Sekarang tinggal menunggu visitasi. Kalau visitasi turun, mudah-mudahan tahun ini SK-nya keluar. Target kami 2026–2027 sudah bisa buka penerimaan mahasiswa baru,” ujarnya.
Dari rencana penyatuan itu, UMUKA akan membuka tujuh program studi baru setingkat sarjana (S1), yakni Manajemen, Psikologi, Hukum, PGSD, Ilmu Pemerintahan, Pendidikan Jasmani, dan Pendidikan Bahasa Inggris. Sementara D3 Kebidanan tetap menjadi prodi bawaan dari Akademi Kebidanan Lubuk Linggau.
Sarilan menjelaskan, dua program studi baru — Psikologi dan Manajemen — sudah diterima usulannya oleh kementerian. Sedangkan lima lainnya masih dalam tahap perbaikan dokumen administratif.
“Ada beberapa berkas yang perlu disempurnakan, seperti kurikulum, data dosen, atau tanda tangan dokumen yang belum sesuai. Tapi semua sudah kami perbaiki,” katanya.
Terkait sumber daya manusia (SDM) dan mahasiswa dari akademi asal, Sarilan menegaskan bahwa pembahasan teknis akan dilakukan setelah SK penyatuan turun.
“Untuk SDM dan mahasiswa nanti akan dibicarakan lebih lanjut. Ada yang mungkin akan pindah ke sini, ada juga yang bisa transfer ke jenjang lain. Prinsipnya, tidak ada yang dirugikan,” pungkasnya.(Hds/K2)












