Usulan Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto Menguat, Dinilai Berjasa Menjaga NKRI dan Membangun Indonesia

IMG 20251106 130206
Sejumlah aliansi masyarakat kabupaten Karanganyar deklarasikan dukungan atas usulan gelar pahlawan Nasional untuk Jendral beras H. M. Soeharto di Monumen Jaten (Kamis, 6 November 2025)

Kabar Karanganyar, — Kiprah Jenderal Besar H. Muhammad Soeharto selama lebih dari tiga dekade memimpin Indonesia serta peran besarnya dalam menjaga keutuhan NKRI pasca kemerdekaan disebut menjadi alasan kuat mengapa almarhum dinilai sudah layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Hal itu mengemuka dalam kegiatan deklarasi dukungan yang digelar para simpatisan dan pecinta Soeharto di Monumen Jaten, Karanganyar, Rabu (6/11/2025).

Menurut Bambang Priyono selaku konseptor Deklarasi tersebut, usulan pemberian gelar Pahlawan Nasional ini bukan tanpa dasar. Ia menegaskan bahwa jasa Soeharto sudah tercatat sejak masa perang mempertahankan kemerdekaan, penumpasan berbagai pemberontakan, hingga memimpin pembangunan nasional yang membawa Indonesia dikenal di dunia internasional.

“Karena mengingat jasa-jasa beliau dari zaman perang kemerdekaan sampai membangun negara Republik Indonesia. Bahkan hingga wafat pun beliau masih memberi manfaat untuk masyarakat,” ujar Bambang.

Ia mencontohkan kawasan Astana Giri Bangun, tempat Soeharto dan Siti Hartinah (Ibu Tien) dimakamkan, yang hingga kini terus menjadi magnet ribuan peziarah setiap pekan. Aktivitas itu menggerakkan perekonomian lokal dan membuat Karanganyar semakin dikenal secara luas, termasuk internasional.

Monumen Jaten dipilih sebagai lokasi deklarasi karena memiliki kedekatan sejarah dengan keluarga Soeharto. Ibu Tien diketahui lahir dan tumbuh di wilayah tersebut. Selain itu, sosok keluarga Soeharto–Tien dianggap menjadi teladan kerukunan keluarga sejak muda hingga akhir hayat.

Tanggapan soal Pro-Kontra: Wajar dalam Demokrasi

Menanggapi munculnya pro dan kontra terkait usulan gelar pahlawan, para tokoh yang hadir menyebut hal itu merupakan hal lumrah.

Seorang tokoh yang akrab disapa Pak Melik menyampaikan bahwa masyarakat Jawa selalu diajarkan falsafah mikul duwur mendem jero—mengangkat kebaikan, mengubur kesalahan.

“Semua orang tidak lepas dari kesalahan. Tapi 30 tahun beliau membangun Indonesia bukan hal yang mudah. Yang baik kita munculkan, kesalahan mari kita tutup. Wajar kalau beliau mendapat gelar pahlawan,” ujarnya Agus Melik sapaan akrabnya.

Ia juga mengenang kehidupan semasa kecil yang serba sulit—akses makan, listrik, dan infrastruktur terbatas—hingga akhirnya berubah melalui pembangunan era Orde Baru.

Sudah Diusulkan Sejak 2010

Para simpatisan menegaskan, usulan gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto bukan hal baru. Pengajuan telah dilakukan sejak 2010 melalui berbagai seminar dan kajian yang melibatkan sejumlah tokoh.

Bambang Priyono menyebut usulan tersebut telah melalui berbagai proses pengujian, baik di Kementerian Sosial maupun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Poin pertama kami mendukung usulan itu. Poin kedua, kami berharap ketika usulan sampai ke meja Presiden, keputusan diberikan untuk menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional,” tegasnya.

Para simpatisan berharap keputusan tersebut dapat ditegaskan pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November.

“Semoga Pak Prabowo sebagai presiden berani memutuskan ini. Sudah saatnya,” ujar Bambang Pri menegaskan aksi mereka.

Mereka juga mengangkat capaian Soeharto, termasuk pembangunan 999 masjid di Indonesia, yang dinilai menjadi warisan besar bagi masyarakat Muslim.

Peserta Deklarasi : Relawan, Paguyuban, hingga Tokoh Seni

Acara deklarasi diikuti perwakilan berbagai unsur, antara lain GPK, Al-Badar, Basuka, RMK (Relawan Karang Bangun), Pagu

yuban Pedagang, Paguyuban Seni Gubahan Mangun, serta Barisan Muda Indonesia Karanganyar. Sejumlah simpatisan pribadi Soeharto juga hadir.

Selain deklarasi di Monumen Jaten, para relawan telah memasang rontek dan baliho dukungan di Bejen dan sepanjang jalan menuju Astana Giri Bangun.(Hds/K2)