Kabar Karanganyar, — Gunung Lawu merupakan salah satu Panca Datu dalam spiritual Jawa. Berangkat dari nilai tersebut, Yayasan Surya Candra Kartika berkomitmen memperkuat literasi sekaligus menghidupkan kembali berbagai tradisi dan ritual leluhur yang saat ini mulai hilang di masyarakat sekitar lereng Gunung Lawu.
Hal itu disampaikan Ketua Panitia kegiatan Yayasan Surya Candra Kartika Toni Hatmoko dalam sebuah seminar terbuka yang membahas asal-usul leluhur masyarakat Jawa dari sudut pandang ilmu pengetahuan dan spiritualitas.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak memahami jejak leluhur melalui pendekatan sains, khususnya kajian DNA, untuk mengetahui asal-usul ras dan garis keturunan masyarakat Nusantara.
“Seminar ini terbuka untuk umum. Kita bersama-sama belajar tentang leluhur, baik dari sisi spiritual maupun dari sisi sains atau ilmu pengetahuan. Melalui kajian DNA kita bisa mengetahui sejatinya kita berasal dari mana dan bagian dari ras apa saja,” ujar Toni. Sabtu (7/03/2026)
Ia menjelaskan, dalam tradisi Jawa dikenal konsep Panca Datu, yang merujuk pada titik-titik penting peradaban dan spiritualitas leluhur. Lokasi tersebut berada di Lembang, Borobudur, Dieng, Prambanan, dan Gunung Lawu.
Dari lima titik tersebut, kawasan Gunung Lawu dinilai memiliki posisi penting dalam perjalanan spiritual masyarakat Jawa. Karena itu, yayasan tersebut berencana menghidupkan kembali berbagai ritual yang dahulu pernah dilakukan oleh para leluhur di kawasan tersebut.
“Ke depan salah satu pekerjaan besar kami adalah menghidupkan kembali ritual-ritual yang dulu dilakukan leluhur kita di Lawu. Banyak tradisi yang sekarang sudah hilang dan tidak lagi dikenal masyarakat,” katanya.
Menurutnya, sejumlah literatur dan manuskrip sebenarnya masih menyimpan catatan mengenai ritual-ritual tersebut. Namun praktiknya di masyarakat sudah tidak lagi dilakukan sehingga perlu upaya penggalian kembali melalui kajian budaya dan sejarah.
Melalui kegiatan literasi, diskusi, dan penelitian budaya, Yayasan Surya Candra Kartika berharap dapat mengumpulkan berbagai referensi dan masukan dari para peneliti, budayawan, maupun masyarakat.
Harapannya, di masa mendatang ritual-ritual leluhur yang pernah berkembang di kawasan Gunung Lawu dapat kembali dikenalkan kepada masyarakat sebagai bagian dari pelestarian budaya dan spiritualitas Jawa. (Hds/K2)












