Kabar Karanganyar, — Peringkat kunjungan wisata ke Kabupaten Karanganyar turun drastis ke posisi lima besar di Jawa Tengah pada awal tahun 2026. Kondisi ini menjadi perhatian serius Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar yang baru, Yopi Eko Jati Wibowo, yang langsung menyiapkan langkah pembenahan dari internal hingga ke pelaku usaha wisata.
Yopi menegaskan, langkah pertama yang akan dilakukan adalah merombak pola pikir birokrasi di lingkungan dinas yang dipimpinnya. Ia menilai, selama ini aparatur masih terjebak dalam pola kerja birokratis konvensional, padahal sektor pariwisata membutuhkan pendekatan yang lebih dinamis dan berorientasi pada pengalaman pengunjung.
“Dinas pariwisata itu bukan sekadar birokrat pelayanan, tapi harus menjadi birokrat yang mampu menghibur (entertain). Kita ingin membangun jiwa entertain di internal dinas agar lebih kreatif dan responsif,” ujarnya. Selasa (7/04/2026)
Sebagai bagian dari transformasi tersebut, Yopi telah membagi jajaran internal menjadi empat kelompok kerja (pokja), yakni pokja sport tourism, ecoculture tourism, wellness tourism, dan enthusiasm. Pembagian ini diharapkan mampu memperkuat fokus pengembangan sektor wisata secara lebih terarah dan inovatif.
Selain pembenahan internal, Yopi juga menyoroti persoalan mendasar di lapangan, khususnya pada pengelolaan destinasi wisata di kawasan andalan seperti Tawangmangu dan Ngargoyoso. Ia menilai, selama ini potensi alam yang menjadi daya tarik utama belum dikelola secara optimal.
“Karanganyar itu kuat di alam. Orang datang ingin merasakan suasana sejuk, kabut, hutan pinus. Tapi kondisi di lapangan belum sepenuhnya mendukung kenyamanan wisatawan,” ungkapnya.
Ia menyoroti masih lemahnya sinergi antar pelaku usaha wisata. Ego sektoral dinilai masih tinggi, sehingga berdampak pada penataan kawasan yang kurang rapi, mulai dari parkir semrawut hingga lapak pedagang yang tidak tertata.
“Harusnya ada kebersamaan dan gotong royong. Kalau semua tertata rapi, orang datang itu nyaman dan ingin kembali. Sekarang masih banyak yang perlu dibenahi,” tegasnya.
Yopi juga menyinggung peran Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) yang dinilai belum optimal. Menurutnya, PHRI seharusnya bisa menjadi motor penggerak kreativitas dan event organizer (EO) untuk menghidupkan kegiatan pariwisata di Karanganyar.
“PHRI jangan hanya jadi kumpulan anggota, tapi harus jadi tim kreatif yang bisa menghidupkan destinasi wisata,” katanya.
Di sisi lain, persoalan aksesibilitas juga menjadi perhatian. Waktu tempuh menuju kawasan wisata seperti Tawangmangu yang bisa mencapai dua jam dari Solo dinilai menjadi hambatan serius bagi wisatawan.
Untuk itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan konsultan tata ruang guna mencari solusi rekayasa lalu lintas, terutama di sejumlah titik rawan kemacetan seperti Karangpandan, Ngargoyoso, hingga kawasan Tawangmangu.
“Kalau akses bisa lancar, wisatawan tidak akan berpikir dua kali untuk datang. Ini yang sedang kita benahi bersama,” jelasnya.
Secara keseluruhan, Yopi menegaskan bahwa strategi yang akan dijalankan meliputi tiga hal utama, yakni pembenahan internal birokrasi menjadi lebih kreatif dan berorientasi hiburan, peningkatan kesadaran pelaku usaha untuk menjaga keseimbangan alam, serta membangun sinergi antar seluruh stakeholder pariwisata.
Dengan langkah tersebut, ia optimistis posisi Karanganyar sebagai destinasi unggulan di Jawa Tengah bisa kembali meningkat dan mampu menarik lebih banyak kunjungan wisatawan ke depan. (Hds/K2)












