Kabar Karanganyar, – Reuni kader Pemuda Pancasila generasi awal di Kabupaten Karanganyar bertajuk “Doreng Lawas” menegaskan satu hal yang tak bisa ditawar: integritas dan loyalitas adalah fondasi utama yang tidak boleh luntur oleh zaman.
Bertempat di Cafe Dadap Serep, Lalung, Karanganyar, para pelopor dan pendiri tahun 1994 kembali berkumpul. Namun pertemuan ini tidak berhenti pada nostalgia, melainkan menjadi ruang refleksi sekaligus “alarm” bagi perjalanan organisasi ke depan.
Mantan Ketua Pemuda Pancasila Karanganyar era awal, RM Sasetyo Hartawan atau Theo, menegaskan bahwa nilai-nilai dasar organisasi harus tetap dijaga, di tengah perubahan yang semakin pragmatis.
“Integritas dan loyalitas itu bukan simbol, tapi sikap. Kalau itu hilang, organisasi hanya tinggal nama,” tegasnya.
Theo mengingatkan, Pemuda Pancasila di Karanganyar lahir melalui proses panjang yang penuh tekanan. Saat itu, keberadaan organisasi tidak serta-merta diterima, bahkan harus menghadapi resistensi dari berbagai kepentingan.
Namun situasi tersebut justru melahirkan militansi. Sebuah forum besar di Gedung Pepabri yang melibatkan ratusan tokoh masyarakat menjadi titik balik, sekaligus legitimasi berdirinya organisasi secara kuat dan terbuka.
“Kami tidak lahir dari kenyamanan, tapi dari perjuangan. Itu yang harus dipahami generasi sekarang,” ujarnya.
Nilai perjuangan itu juga tercermin dari proses kaderisasi yang keras. Agus Pramono Jati atau Bereng mengenang bagaimana pendidikan dan latihan dasar Komando Inti Mahatidana (Koti) membentuk mental dan loyalitas tanpa kompromi.
“Dulu ditempa habis-habisan. Tapi dari situlah lahir rasa memiliki yang tidak bisa dibeli,” katanya.
Tak hanya soal mental, keterbatasan finansial juga menjadi ujian nyata. Para kader generasi awal harus bergerak mandiri—menjual seragam hingga stiker “Pancasila Abadi”—demi menjaga organisasi tetap hidup.
Kondisi tersebut justru memperkuat solidaritas. Tidak ada ketergantungan, tidak ada fasilitas berlebih, hanya komitmen bersama untuk bertahan dan berkembang.
“Semua serba terbatas, tapi justru di situ nilai kebersamaan terbentuk kuat,” ungkap salah satu kader.
Dalam reuni tersebut, para pelopor juga memberikan apresiasi kepada kepemimpinan yang terus melanjutkan estafet organisasi hingga saat ini. Namun mereka mengingatkan, eksistensi tidak boleh mengorbankan prinsip.
Theo menyoroti tantangan masa kini yang dinilai lebih kompleks, terutama ketika nilai loyalitas mulai beririsan dengan kepentingan praktis.
“Jangan sampai loyalitas berubah arah. Kalau integritas tergadaikan, kita kehilangan jati diri,” tegasnya.
Reuni “Doreng Lawas” pun menjadi lebih dari sekadar pertemuan. Ia menjelma sebagai ruang peneguhan nilai—bahwa organisasi ini dibangun bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk tetap berkarakter.
Pesan yang mengemuka jelas: di tengah perubahan zaman, integritas harus tetap dijaga, dan loyalitas tidak boleh kehilangan makna. (Hds/K2)












