Kabar Karanganyar, – Sebuah karya budaya monumental lahir dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X. Lembaga ini mempersembahkan Sendra Tari Garuda, hasil riset mendalam terhadap relief Candi Sukuh yang dikemas menjadi pertunjukan tari modern nan megah. Karya tersebut resmi diluncurkan dalam rangkaian peringatan HUT ke-108 Kabupaten Karanganyar dan menjadi bagian dari agenda besar “Gebyar Ekraf 2025.”
Kepala BPK Wilayah X, Manggar Sari Ayuati, menjelaskan bahwa lahirnya Sendra Tari Garuda merupakan wujud inovasi pelestarian budaya. Transformasi dari pahatan batu menjadi gerak tubuh ini diharapkan dapat menjembatani generasi masa kini untuk lebih mengenal nilai-nilai luhur nenek moyang.
“Kami ingin budaya tidak hanya dipandang sebagai benda mati, tetapi hidup dan dinikmati masyarakat. Tari Garuda ini kami harap bisa menjadi ikon baru Karanganyar,” ujarnya. Sabtu malam (1/11/2025).
Karya tersebut tidak hanya menampilkan keindahan tari, tetapi juga merepresentasikan perpaduan antara cagar budaya dan nilai budaya. Cerita yang diangkat berasal dari relief Candi Sukuh yang menggambarkan kisah epik Garuda — simbol perjuangan, bakti seorang anak kepada ibunya, serta pembebasan dari segala hal yang kotor menuju kesucian.
Sutradara Sendra Tari Garuda, Dr. Fawarti Gendra Nata Utami, S.Sn., M.Sn., menjelaskan bahwa riset terhadap relief Candi Sukuh dilakukan secara mendalam selama setahun. Timnya mengkaji naskah sejarah, mitologi, serta melakukan wawancara dengan para tokoh dan warga sekitar candi.
“Kami menemukan bahwa kisah Dewi Kadru dan Winata terpahat jelas di relief. Dari sanalah kami menenun ulang cerita itu ke dalam bentuk gerak dan musik,” ungkapnya.
Pemerintah Kabupaten Karanganyar menyambut antusias inisiatif ini. Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar, Hari Purnomo, menilai kehadiran Sendra Tari Garuda menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas daerah berbasis warisan budaya.
“Ini bagian dari 10 rangkaian kegiatan Gebyar Ekraf 2025. Selain memperingati HUT Karanganyar ke-108, karya ini juga menghidupkan kembali spirit budaya lokal,” katanya.
Ke depan, BPK Wilayah X berencana menyerahkan hak cipta karya tari ini kepada Pemerintah Kabupaten Karanganyar. Dengan demikian, Sendra Tari Garuda akan menjadi milik daerah yang dapat terus dikembangkan dan dipentaskan oleh para seniman lokal. Selain itu, BPK juga akan menggelar pelatihan bagi sanggar-sanggar tari dan sekolah-sekolah di Karanganyar agar karya ini dapat diwariskan lintas generasi.
“Bayangan kami, tarian ini bisa tampil reguler di kawasan Candi Sukuh, seperti halnya sendratari di Candi Prambanan. Ketika ada tamu atau wisatawan, mereka bisa menyaksikan pertunjukan budaya khas Karanganyar,” tambah Manggar.
Melalui Sendra Tari Garuda, Karanganyar tidak hanya merayakan ulang tahunnya yang ke-108, tetapi juga menegaskan diri sebagai daerah yang kaya inspirasi budaya — di mana batu-batu kuno Candi Sukuh kini menari dan bercerita kembali dalam bahasa gerak yang hidup.(Hds/K2)












